Abbi Warden Bagikan Kisah Haru Adik Ipar Rela Menyusui Bayinya
Perjalanan memberikan air susu ibu (ASI) tidak selalu berjalan mulus bagi setiap orang tua yang baru melahirkan. Tantangan kesehatan sering kali menjadi penghambat utama seorang ibu untuk bisa memberikan nutrisi terbaik secara langsung kepada buah hatinya.
Pengalaman emosional ini dialami oleh Abbi Warden pascamelahirkan anak ketiganya melalui operasi caesar kedua. Kondisi medis yang tidak terduga memaksanya menjalani operasi lanjutan serta mengonsumsi obat-obatan tertentu, sehingga ia tidak bisa langsung merawat bayinya.
Rasa sedih dan bersalah sempat berkecamuk di dalam diri Abbi karena rencana untuk memompa ASI terhambat. Namun, seperti dilansir dari HaiBunda, kehadiran adik iparnya yang bernama Becca Victoria menjadi penyelamat di tengah masa sulit tersebut.
Becca yang kebetulan sedang dalam masa menyusui bayinya sendiri langsung menawarkan bantuan tanpa ragu. Ia bahkan membatalkan rencana liburan musim semi bersama keluarganya demi menjaga dan memberikan ASI kepada putri Abbi.
"Jujur saja, ketika Becca pertama kali menawarkan, itu melalui pesan teks, dan itu semacam lelucon. Dia mengirim pesan kepada saya, 'Jika kamu membutuhkanku, aku akan menjadi pengasuh bayimu,'" kata Abbi dikutip dari People.
Aksi solidaritas keluarga ini langsung berjalan cepat begitu Abbi dan suaminya menyetujui tawaran tersebut.
"Kami menghubungi Becca, dan dia langsung meninggalkan semua yang sedang dia lakukan dan segera datang, lalu dia memberi makan putri saya," ujar Abbi.
Selama tiga hari Abbi berada di rumah sakit, Becca mengasuh, memberi makan, hingga tidur bersama bayi tersebut agar tetap merasa nyaman.
Bagi Becca, keputusan untuk membantu merupakan hal yang spontan dan sudah semestinya dilakukan demi meringankan beban kerabatnya.
“Ketika keluarga membutuhkan, kita hadir untuk mereka,” tutur Becca.
Meskipun sangat bersyukur, Abbi tidak menampik adanya perasaan emosional yang campur aduk ketika melihat bayinya disusui oleh orang lain.
"Sebagai seorang ibu, sulit untuk menjelaskan, tetapi Anda selalu memikirkan anak-anak Anda. Anda selalu merencanakan makanan mereka. Bahkan di rumah sakit, yang bisa saya pikirkan hanyalah, 'Apakah putri saya makan?'
Dan rasanya sangat mengecewakan karena tidak bisa meninggalkan segalanya dan pergi menemuinya, memberinya makan, dan merawatnya sendiri. Aku merasa telah mengecewakannya. Aku merasa telah gagal.
Aku merasa telah mengecewakannya. Aku terus berpikir, 'Mengapa aku memilih untuk menjalani operasi saat bayiku berusia tujuh bulan? Haruskah aku menunggu lebih lama?
Apakah itu egois?'" ungkap Abbi.
Pengalaman ini memberikan kesadaran baru bagi Abbi mengenai pentingnya dukungan sistem dari orang-orang terdekat selama masa pemulihan pascapersalinan.
"Dia memberi makan dan tidur bersama putriku, bersama bayinya sendiri, selama tiga hari saat aku di rumah sakit. Dia benar-benar membiarkanku pulih, karena aku tahu begitu aku sampai di rumah bersama balita kembarku dan bayiku, tidak akan ada banyak waktu untuk hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa dan memulihkan diri. Yang paling membuatku terharu adalah betapa intuitifnya dia," kata Abbi.
Melalui peristiwa tersebut, hubungan antara Abbi dan Becca kini menjadi semakin erat, tidak sekadar sebagai adik ipar tetapi juga sebagai teman seperjalanan dalam mengasuh anak.