Adhi Karya Terancam Gagal Bayar Bunga Obligasi Rp60,8 Miliar

Share

PT Adhi Karya (Persero) Tbk menghadapi risiko gagal bayar atas kewajiban bunga obligasi sebesar Rp60,8 miliar yang bakal jatuh tempo pada 24 Agustus 2026. Tekanan keuangan struktural menjadi penyebab utama terbatasnya likuiditas emiten konstruksi BUMN ini. Ancaman penundaan pembayaran tersebut memicu PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat General Obligation ADHI serta Obligasi Berkelanjutan III dan IV dari idBB menjadi idB dengan status CreditWatch Implikasi Negatif. Langkah penurunan peringkat utang ini diambil usai Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) Berkelanjutan III Seri B dan C pada 6 Agustus 2026 gagal mencapai kuorum persetujuan terkait usulan permohonan penundaan jadwal pembayaran bunga ke-17, 18, dan 19.

Melalui keterbukaan informasi pasar modal, Direktur Utama Adhi Karya Moeharmein Zein Chaniago membeberkan kondisi internal perseroan terkait keterbatasan dana tersebut.

"Kondisi tersebut menyebabkan keterbatasan ketersediaan dana perseroan untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga obligasi pada tanggal jatuh tempo," ujar Moeharmein Zein Chaniago, Direktur Utama Adhi Karya. Sebagai langkah penyelesaian krisis arus kas, manajemen perseroan kini menyiapkan program penyehatan keuangan dan transformasi bisnis komprehensif, serta berencana berkoordinasi kembali dengan Wali Amanat untuk menggelar RUPO lanjutan.

"Perseroan menghadapi tekanan keuangan yang bersifat struktural dan saling berkaitan, berdampak pada kinerja konsolidasi dan posisi likuiditas serta solvabilitas termasuk kemampuan bayar kepada kreditur," kata Moeharmein Zein Chaniago, Direktur Utama Adhi Karya. Merespons penolakan usulan penundaan pembayaran utang oleh para pemegang obligasi, Analis Pefindo William Siregar menyampaikan penilaian risikonya.

"Kami dapat meninjau kembali peringkat Perusahaan apabila ADHI dapat menunjukkan kapasitas dan resolusi yang berkelanjutan atas kewajiban keuangan yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat," ujar William Siregar, Analis Pefindo. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan bersih ADHI merosot 18,37 persen secara tahunan menjadi Rp3,11 triliun. Meskipun demikian, laba bersih perseroan masih tumbuh 12,59 persen menjadi Rp8,49 miliar berkat efisiensi beban pokok pendapatan. Tekanan likuiditas perusahaan juga tercermin dari arus kas operasional yang membukukan nilai negatif Rp751 miliar pada semester I-2026, sementara harga saham ADHI ditutup melemah 3,62 persen ke level Rp133 per lembar pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author