Kecerdasan Buatan Deteksi Penurunan Kognitif Melalui Pola Bicara
Para peneliti dari Baycrest Corporate Centre for Geriatric Care, University of Toronto, dan York University menemukan bahwa pola bicara tertentu dapat mendeteksi penurunan kognitif dan risiko demensia melalui analisis kecerdasan buatan.
Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Speech, Language, and Hearing Research tersebut, para peserta diminta mendeskripsikan gambar secara verbal sementara sistem kecerdasan buatan menganalisis kelancaran serta waktu jeda bicara mereka.
Hasil analisis suara tersebut terbukti konsisten dalam memprediksi performa peserta pada tes kognitif standar yang mengukur fungsi eksekutif otak.
Metode pemantauan digital ini dinilai berpotensi menjadi alat skrining awal yang murah dan non-invasif, dengan beberapa studi aplikasi berbasis ponsel pintar menunjukkan tingkat akurasi antara 75 persen hingga 78 persen.
Pakar neurosains dari Duke School of Medicine, Dr. Heather Whitson, memberikan pandangannya mengenai karakteristik gangguan bahasa yang umum ditemui pada penderita demensia.
"We know that language is one of the domains of cognition that can be really affected by dementia, and certain types of dementia more than others, but in all types of dementia, difficulty finding common words is a feature that we look for, and that we know occurs," ujar Heather Whitson, Profesor Neurosains di Duke School of Medicine.
Ia menambahkan bahwa kesulitan mengingat kata biasanya dimulai dari kata benda atau nama orang yang sering dilupakan dalam percakapan sehari-hari.
"Usually it starts with proper nouns, so the person who’s saying, ‘I can remember everything about that actor, but I can’t think of their name right now,’" kata Heather Whitson.
Namun, pola bicara sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan keluarga sehingga penggunaan satu kata pengisi belum tentu menjadi indikator pasti penurunan kognitif.
"Speech patterns are very dependent on culture and even families," ujar Heather Whitson.
Data penelitian ini juga baru diambil dari satu titik waktu tertentu sehingga belum memiliki pembanding historis dari pola bicara masa lalu peserta.
"drawn from one time point," kata Heather Whitson.
Meskipun demikian, ada beberapa tanda peringatan lain terkait demensia yang perlu diwaspadai dan dikonsultasikan dengan dokter, terutama kesulitan mengekspresikan diri menggunakan kata-kata kamus yang biasa.
"The kinds of things I would worry about, number one … having a lot of difficulty expressing oneself, particularly with ordinary dictionary words, not just struggling to come up with the name of someone or the title of a book or movie," ujar Heather Whitson.
Gejala lain yang patut dicurigai adalah gangguan memori jangka pendek, seperti mengulang pertanyaan yang sama dalam waktu singkat.
"That usually presents with either repeating one’s questions in a very short time span," kata Heather Whitson.
Tanda-tanda peringatan tambahan meliputi tersesat di tempat yang sudah dikenal atau berulang kali melupakan janji temu yang penting.
"Other things is getting lost in familiar places, or repeatedly forgetting important appointments," ujar Heather Whitson.
Perubahan gaya hidup seperti mengontrol tekanan darah, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga kualitas tidur, dan mengoptimalkan fungsi penglihatan serta pendengaran dapat membantu menurunkan risiko demensia.
"There’s even evidence that strict control of blood pressure down to a top number of 120 or less is associated with reduced dementia risk," kata Heather Whitson.
Olahraga rutin tetap menjadi salah satu rekomendasi utama yang paling efektif dalam menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
"Physical activity is one of the things that is most associated with lowering dementia risk, as well as almost every other kind of health risk," ujar Heather Whitson.
Peningkatan aktivitas fisik menjadi perubahan gaya hidup paling krusial yang disarankan bagi individu untuk melindungi fungsi kognitif mereka.
"So, I always tell people, if they’re going to change one thing about their lifestyle, increasing physical activity would be the thing to do." kata Heather Whitson.
Faktor lain seperti optimalisasi organ sensorik juga berkontribusi besar karena mata dan telinga merupakan penyuplai informasi utama ke otak.
"Making sure that people’s vision and hearing are optimized is associated with lowering our dementia risk, which kind of makes sense because our ears and our eyes are what feeds most information and activation to our brain," ujar Heather Whitson.
Sementara itu, pakar neurologi dari Yale School of Medicine menjelaskan bahwa penurunan performa kognitif ringan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal sejak usia 20-an atau 30-an tahun.
"All of us, probably starting around our 20s or 30s, start doing a little bit worse over time on many formal cognitive tests, and that does not mean that we’re on the way to dementia. It’s what we often refer to as healthy aging," ujar Carolyn Fredericks, Asisten Profesor Neurologi di Yale School of Medicine.
Namun, sistem kecerdasan buatan dalam studi ini dirancang untuk mendeteksi deviasi yang lebih ekstrem dari pola penuaan normal tersebut pada individu yang rentan.
"And some of the things that they were looking at in this study are things where everybody gets a little worse on these measures over time, but they’re picking up a signature where [in] some people, it’s just that much more so, and those are the ones who are vulnerable," kata Carolyn Fredericks.
Untuk membedakan kondisi normal dan gejala klinis, membandingkan frekuensi kelupaan dengan rekan seusia bisa menjadi langkah awal yang berguna.
"Often it’s helpful to compare yourself to your peers," ujar Carolyn Fredericks.
Di sisi lain, analisis linguistik historis terhadap karya novelis Sir Terry Pratchett oleh Cardiff University dan Loughborough University menunjukkan penurunan keragaman kosakata sudah terdeteksi sepuluh tahun sebelum diagnosis klinis Alzheimer-nya pada 2007.
"Speech timing and fluency may offer a practical window into cognitive health, even in individuals who haven't shown obvious signs of decline." kata tim peneliti Baycrest, University of Toronto, dan York University dalam laporannya yang dimuat oleh HuffPost dan vocal.media.