Aktivitas Otak Saat Duduk Kurangi Risiko Demensia

Share

Kebiasaan duduk terlalu lama sering kali dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Namun, sebuah temuan terbaru mengungkapkan bahwa jenis aktivitas yang dilakukan saat duduk memegang peranan penting dalam menekan risiko penurunan fungsi kognitif tersebut.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine pada Maret 2026 menunjukkan hal berbeda. Mengganti perilaku duduk pasif dengan aktivitas yang aktif secara mental berhubungan erat dengan penurunan risiko demensia secara signifikan, seperti dikutip dari Detik Health.

Aktivitas duduk aktif secara mental meliputi kegiatan membaca, menuntaskan pekerjaan kantor, serta proses lain yang memicu kerja otak. Sebaliknya, duduk pasif secara mental mencakup kegiatan menonton televisi atau melihat layar yang tidak melibatkan proses berpikir mendalam, sebagaimana dilansir dari NYPost.

Dalam studi ini, para peneliti asal Swedia mengamati data lebih dari 20.000 orang dewasa dengan rentang usia 35 hingga 64 tahun. Proses pelacakan rekam medis dan data kematian di Swedia ini berlangsung selama 19 tahun, terhitung sejak 1997 sampai 2016.

Selama periode tersebut, para peserta mengisi kuisioner mengenai kebiasaan duduk, intensitas aktivitas fisik, serta pola gaya hidup mereka. Hasil analisis membuktikan bahwa beralih dari duduk pasif ke duduk aktif secara kognitif atau rutin bergerak mampu memangkas risiko demensia pada kelompok usia lanjut.

Meskipun observasi ini dilakukan terhadap masyarakat Swedia, hasil temuan dinilai dapat diterapkan pada populasi global secara luas. Data tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi dalam menyusun panduan kesehatan masyarakat serta strategi preventif global terhadap demensia.

Ketua tim penelitian, Dr Mats Hallgren dari Institut Karolinska Swedia, menjelaskan bahwa studi ini memperlihatkan perbedaan besar antara duduk pasif dan duduk yang melibatkan pikiran terhadap kesehatan otak.

"Meskipun semua posisi duduk hanya melibatkan pengeluaran energi minimal, hal itu dapat dibedakan berdasarkan tingkat aktivitas otak," kata Hallgren.

"Cara kita menggunakan otak saat duduk tampaknya merupakan penentu penting fungsi kognitif di masa depan dan, seperti yang telah kami tunjukkan, dapat memprediksi timbulnya demensia," tambahnya.

Dr Mats Hallgren juga menambahkan bahwa perilaku kurang bergerak pada dasarnya merupakan faktor risiko umum yang sebenarnya bisa diubah dalam berbagai kondisi kesehatan.

"Studi kami menambahkan pengamatan bahwa tidak semua perilaku kurang gerak itu sama; beberapa dapat meningkatkan risiko demensia, sementara yang lain mungkin bersifat melindungi," tambahnya.

"Penting untuk tetap aktif secara fisik seiring bertambahnya usia, tetapi juga aktif secara mental, terutama saat kita duduk."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author