Alasan Brand HP Android Pertahankan Protokol Fast Charging Sendiri

Share

Setiap produsen ponsel pintar Android saat ini menerapkan teknologi pengisian daya cepat atau fast charging yang berbeda-beda. Pengguna dapat menemukan teknologi seperti HyperCharge milik Xiaomi, SuperVOOC dari Oppo, Flash Charge besutan Vivo, hingga Super Fast Charging kepunyaan Samsung.

Dilansir dari Gamebrott, keberadaan protokol yang berbeda-beda ini tetap bertahan meskipun standar universal seperti USB Power Delivery (USB-PD) sudah tersedia. USB-PD sendiri memiliki fleksibilitas tinggi dengan kemampuan menghantarkan daya mulai dari 5W hingga 240W sesuai kebutuhan perangkat.

Persaingan antarvendor untuk menghadirkan kecepatan pengisian daya tertinggi menjadi salah satu pemicu utamanya. Beberapa tahun lalu, produsen fokus mendongkrak kemampuan pengisian daya dari 35W, 45W, 65W, 100W, bahkan hingga mencapai angka 200W pada model tertentu.

Vendor smartphone memilih menggunakan protokol proprietary karena memberikan keleluasaan dalam mengatur kuat arus, voltase, hingga suhu ponsel selama proses pengisian. Standar umum seperti USB-PD dinilai sulit memfasilitasi lonjakan kecepatan yang diinginkan vendor secara instan.

Produsen harus menunggu pihak USB merilis standar baru jika ingin melampaui batasan daya yang ada. Hal ini mendorong vendor untuk mengembangkan teknologi mandiri yang lebih adaptif terhadap perangkat buatan mereka.

Perbedaan mendasar juga terlihat pada metode peningkatan daya. USB-PD berfokus pada pengaturan voltase, sedangkan protokol bawaan brand lebih mengutamakan manipulasi kuat arus atau Ampere yang dinamis.

Pendekatan berbasis Ampere tinggi ini membutuhkan aksesori khusus agar berfungsi optimal. Sebagai contoh, charger Xiaomi memerlukan kabel yang mendukung arus 3A, sebuah spesifikasi yang sempat sulit ditemukan pada produk pihak ketiga saat teknologi tersebut diluncurkan.

Penggantian kabel charger bawaan dengan kabel biasa akan menurunkan kecepatan pengisian daya secara drastis. Hal itu terjadi karena kabel pengganti tidak mampu mengalirkan arus sebesar 3 Ampere.

Strategi Ekosistem dan Investasi Teknologi

Meskipun teknologi USB-PD kini telah meluncurkan protokol Programmable Power Supply (PPS), para produsen HP cenderung tidak mengimplementasikannya secara penuh. Vendor telah berinvestasi besar dalam mengembangkan protokol mandiri mereka.

Penerapan protokol khusus ini juga berfungsi sebagai strategi untuk membangun ekosistem aksesori mini. Pembatasan metode pengisian daya pada kabel dan adaptor bawaan memastikan pengguna kembali membeli suku cadang original saat aksesori rusak.

Penjualan aksesori original dengan harga yang relatif tinggi menjadi sumber pendapatan sekunder yang menguntungkan bagi pihak brand. Vendor enggan meninggalkan ekosistem yang telah digunakan oleh ratusan juta pengguna tersebut.

Sektor chipset juga ikut memengaruhi keragaman ini melalui kehadiran Quick Charge dari Qualcomm dan Pump Express milik MediaTek. Hingga saat ini, belum ada regulasi global yang melarang produsen untuk mengunci ekosistem pengisian daya mereka.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author