Amanal Petros Sabet Emas Maraton di Kejuaraan Atletik Eropa

Share

Pelari asal Jerman, Amanal Petros, memenangkan medali emas nomor maraton putra dalam Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham, Inggris, sekaligus mencetak rekor baru kejuaraan dengan catatan waktu 2 jam 9 menit 11 detik, dilansir dari Detikcom.

Petros mulai memisahkan diri dari rombongan utama saat memasuki rute tanjakan di kilometer 25 dari total jarak 42 kilometer. Atlet berusia 31 tahun tersebut berhasil mempertahankan keunggulannya hingga menyentuh garis finis, unggul tujuh detik dari pelari Italia Pietro Riva yang mengamankan tempat kedua.

Pencapaian ini menjadi gelar juara maraton tingkat dunia pertama bagi Petros. Momen tersebut diraih sebelas bulan setelah dirinya harus puas membawa pulang medali perak akibat kalah tipis pada Kejuaraan Maraton Dunia di Tokyo.

Kemenangan di Birmingham diraih Petros setelah melewati hambatan administrasi yang membuat dirinya baru tiba di lokasi perlombaan pada Sabtu (15/08), sehari sebelum ajang dimulai. Kendala terkait visa elektronik miliknya sempat menghambat perjalanan sebelum akhirnya diselesaikan dengan bantuan Asosiasi Atletik Jerman (DLV).

Selain masalah kedatangan, para peserta harus menaklukkan lintasan yang memiliki delapan putaran, 120 tikungan, serta sejumlah tanjakan terjal. Petros sebelumnya telah menjalani latihan khusus selama beberapa bulan di dataran tinggi Kenya untuk menghadapi tantangan rute tersebut.

Emas yang didapat dalam kejuaraan ini didedikasikan Petros secara khusus untuk ibunya yang saat ini bermukim di kawasan Tigray, Ethiopia.

Kehidupan awal Petros dipenuhi dinamika perjalanan sebagai pengungsi akibat konflik antara Eritrea dan Ethiopia. Ia tiba di Jerman seorang diri pada awal 2012 saat berusia 16 tahun dan sempat menetap di pusat penampungan pencari suaka, sementara keluarganya bertahan di Tigray.

Bakat lari Petros pertama kali ditemukan oleh seorang pengurus klub sepak bola lokal di Jerman. Hanya beberapa bulan setelah kedatangannya, ia memenangi kompetisi lari 10 kilometer pertamanya pada Juni 2012 sebelum akhirnya resmi memperoleh kewarganegaraan Jerman pada tahun 2015.

Karier atletik Petros terus meningkat hingga berhasil memecahkan rekor nasional maraton Jerman di Valencia pada Desember 2025 dengan waktu 2 jam 4 menit 3 detik, serta rekor nasional Berlin Half Marathon pada Maret 2025 dengan rekor 59 menit 22 detik.

Sebelum berlaga di Birmingham, Petros mengukir sejarah sebagai pelari Jerman pertama sejak 1983 yang meraih medali di nomor maraton putra Kejuaraan Dunia saat finis kedua di Tokyo pada September 2025.

"Saya ingin memastikan kemenangan lebih cepat dan rencana itu berjalan dengan sempurna," kata Petros.

Ia menegaskan bahwa jarak yang tipis dengan pelari di belakangnya tidak mengganggu fokus bertanding di lintasan.

"Semuanya terkendali," ujar Petros.

Terkait kendala dokumen perjalanan yang sempat dialaminya menjelang perlombaan, Petros mengeluhkan lambatnya proses yang harus dilalui.

"Prosesnya sangat berlarut lama. Benar-benar buruk. Kami harus bolak-balik selama dua hari," ungkap Petros.

Mengenai kondisi rute perlombaan di Birmingham, Petros mengakui tingkat kesulitan medan yang harus ditaklukkan seluruh peserta.

"Ada 120 tikungan dan banyak tanjakan. Itu tantangan yang luar biasa berat," kata Petros.

Kemenangan tersebut dirasa sangat emosional bagi Petros yang terpisah jarak geografis sangat jauh dari sang ibu.

"Ibu saya adalah ratu bagi saya dan sumber kekuatan saya. Dengan mengingat sosoknya memberi saya energi dan motivasi baru. Beliau memang yang terbaik," tegas Petros.

Mengingat kembali komunikasi yang sempat terputus dengan keluarga akibat konflik militer di Tigray pada akhir 2021, Petros menceritakan dampak psikologis yang dialaminya saat itu.

"Situasi saat itu sangat berat, kadang-kadang saya tidak bisa tidur nyenyak dan mengalami mimpi buruk. Tetapi saya berusaha untuk tidak kehilangan harapan," kata Petros.

Olahraga lari menjadi pegangan utama bagi Petros untuk bertahan melintasi berbagai masa sulit dalam hidupnya.

"Jika saya menyerah dalam olahraga ini, berarti saya kehilangan segalanya," ujar Petros.

Fokus pada cabang olahraga atletik menjadi tempat perlindungan utamanya saat situasi krisis melanda daerah asalnya.

"saya sudah kehilangan keluarga dan jika saya berhenti berlari, saya akan kehilangan satu-satunya hal yang masih saya miliki," tutur Petros.

Ia mengakui bahwa persoalan yang menimpa keluarganya tidak pernah benar-benar lepas dari ingatannya, termasuk saat berada di arena pertandingan.

"Saya selalu memikirkan keluarga saya," kata Petros.

Proses adaptasi kehidupan di negara baru juga menjadi tantangan tersendiri bagi Petros sewaktu awal menetap di Jerman.

"mempelajari bahasa Jerman merupakan tantangan besar, tetapi memahami pola pikir masyarakat Jerman merupakan tantangan yang lebih besar lagi," ungkap Petros.

Kekalahan tipis selisih 0,03 detik lewat foto finis dari pelari Tanzania Alphonce Simbu di Tokyo dijadikan pembelajaran profesional oleh dirinya.

"Sebagai atlet profesional, saya harus menerima kenyataan itu dan terus melangkah maju," ujar Petros.

Keberhasilan meraih medali perak di Tokyo tetap menjadi pencapaian monumental bagi perjalanan karier serta keluarganya.

"Pencapaian ini sangat berarti bagi saya, terutama untuk keluarga saya dan untuk ibu saya," ucap Petros.

Impian besar Petros adalah bisa membawa sang ibu menghadiri secara langsung kompetisi atletik yang dikikutinya di masa depan.

"mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa membawa ibu saya ke Jerman untuk menyaksikan kompetisi secara langsung," kata Petros.

Merayakan gelar juara internasional besarnya yang pertama di Birmingham, Petros berseloroh mengenai rencana pemulihan kondisinya.

"Perlombaan ini sangat-sangat berat, tetapi sedikit anggur merah akan membuat saya pulih dengan cepat," ujar Petros.

Saat ditanya mengenai jumlah anggur merah yang akan dikonsumsinya untuk perayaan tersebut, Petros meresponsnya dengan gurauan.

"Oh ya, satu, dua atau tiga gelas," kelakar Petros.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author