Amerika Serikat dan Iran Saling Serang Pascapemakaman Ali Khamenei

Share

Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Washington melancarkan serangan besar-besaran yang dibalas oleh Teheran dengan menargetkan pangkalan sekutu AS di Kuwait dan Bahrain pada Kamis (9/7) malam.

Aksi saling serang ini terjadi bertepatan dengan pelaksanaan pemakaman kenegaraan secara tertutup untuk mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Makam Imam Reza, Mashhad, dilansir dari Detikcom.

Otoritas Iran melaporkan sebanyak 17 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka akibat gempuran terbaru militer AS pekan ini, yang juga melumpuhkan jalur kereta api Teheran-Mashhad. Komando Pusat militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah menghantam 90 sasaran di wilayah Iran guna melemahkan ancaman terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Sebagai respons, pasukan Iran melepaskan rudal balistik serta pesawat nirawak ke pangkalan sekutu AS, yang memicu sirene bahaya di Bahrain serta interseptor militer di Kuwait dan Yordania. Eskalasi ini mengancam kesepakatan gencatan senjata sementara yang baru disepakati bulan lalu, di mana arus kapal di Selat Hormuz sebenarnya mulai meningkat dari 233 kapal pada Mei menjadi 576 kapal pada Juni.

Di tengah situasi panas tersebut, muncul laporan intelijen mengenai ancaman pembunuhan terhadap Presiden AS Donald Trump yang diduga dirancang oleh Teheran. Hubungan diplomatik kian rumit karena Trump menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata sementara kini telah berakhir.

"Tidak ada kompromi dengan para pembunuh," seru para pengunjung yang menghadiri prosesi.

Pernyataan itu diteriakkan oleh massa yang mengibarkan bendera Iran dan bendera merah simbol pembalasan dendam saat pemakaman berlangsung. Upacara duka di beberapa kota Iran dan Irak dilaporkan terus berubah menjadi aksi demonstrasi anti-AS dan Israel.

Sementara itu, pihak Israel memberikan peringatan konkret kepada Washington mengenai rencana pembunuhan Trump oleh Iran untuk memengaruhi kebijakan luar negeri AS. Menanggapi situasi tersebut, Trump yang baru saja kembali dari KTT NATO langsung memberikan pernyataan resmi.

"Saya adalah nomor satu dalam daftar target pembunuhan Iran," kata Trump.

Di sisi lain, negosiasi pembukaan penuh Selat Hormuz dan penghentian program nuklir Teheran dijadwalkan tetap bergulir pascapemakaman, meskipun Trump menilai para negosiator tengah membuang waktu. Mediator internasional menegaskan bahwa pembicaraan teknis akan terus berjalan demi memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author