Amerika Serikat Serang Target Iran dan Picu Serangan Balasan
Militer Amerika Serikat kembali menggempur target-target Iran di Timur Tengah pada Jumat (17/7) malam, yang segera direspons pihak Iran dengan melancarkan serangan balasan ke markas militer AS di Kuwait dan Yordania, dilansir dari Detikcom. Aksi saling serang pada malam ketujuh berturut-turut ini menandai eskalasi konflik yang kembali memanas di wilayah tersebut. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan aksi terbarunya ditujukan guna melemahkan kapabilitas militer Iran. "Komando Pusat AS (CENTCOM) menghantam lokasi pengintaian, infrastruktur logistik militer, fasilitas penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim," demikian pernyataan CENTCOM yang disampaikan via media sosial X.
Operasi penggempuran tersebut melibatkan berbagai armada tempur udara hingga laut untuk menyasar fasilitas-fasilitas strategis.
"Pasukan AS mengerahkan pesawat tempur, drone, dan kapal-kapal perang, di samping aset-aset lainnya," imbuh pernyataan tersebut. Pihak militer AS juga memastikan langkah pengawasan ketat terhadap wilayah perairan untuk menekan pergerakan logistik lawan.
"CENTCOM terus meminta pertanggungjawaban Iran sesuai arahan Panglima Tinggi, sembari menegakkan blokade laut secara penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," tegas CENTCOM dalam pernyataannya. Sementara itu, respons cepat dilakukan oleh militer Iran dengan menargetkan titik-titik pertahanan udara dan logistik milik Amerika Serikat di negara tetangga.
Media pemerintah Teheran melaporkan bahwa pasukan Iran berhasil menghantam gudang amunisi di kamp militer Al-Adiri, markas serta depot senjata di Pangkalan Ali Al-Salem, dan fasilitas komunikasi di Kuwait, serta tangki bahan bakar di pangkalan Al-Azraq, Yordania. Pemerintah Kuwait mengonfirmasi adanya aktivitas pertahanan di wilayah udara mereka menyusul insiden ledakan yang terdengar oleh warga setempat. Militer Kuwait melaporkan bahwa rentetan suara ledakan yang mungkin terdengar di negara itu merupakan imbas "sistem pertahanan udara yang mencegat target-target bermusuhan".
Situasi tegang ini juga memicu pengaktifan sirene peringatan dini serangan udara di wilayah Bahrain, yang menjadi lokasi pangkalan angkatan laut utama bagi pasukan Amerika Serikat.