Ariel Adhidevara Bagikan Pengalaman Kuliah di Harvard University Tanpa Rapor Sempurna

Share

Seorang mahasiswa Indonesia bernama Ariel Adhidevara berhasil menembus seleksi Harvard University meskipun tidak memiliki rekam jejak nilai akademik yang menonjol selama masa sekolah.

Kisah perjuangan tersebut dilansir dari Detikcom pada Selasa (26/5/2026), di mana Ariel membagikan pengalamannya yang sempat menghadapi penolakan dari berbagai kampus saat mendaftar program sarjana.

Mantan siswa yang mengaku kurang cocok dengan atmosfer kompetitif di sekolah ini menyatakan bahwa capaian nilai rapotnya di masa lalu tergolong biasa saja.

"Nilai aku juga dulu kurang bagus," ujar Ariel.

Kendati berhasil melanjutkan studi ke salah satu universitas terbaik dunia, Ariel meluruskan anggapan keliru yang menilai kesuksesannya diraih secara instan tanpa usaha keras.

"Yang tidak kalian tahu juga proses setelah itu juga aku panjang. Dan sempat ditolak beberapa kali di kampus," kata Ariel.

Pria ini menambahkan bahwa menjaga stabilitas nilai akademik sejak dini sembari mengasah minat personal tetap menjadi pilihan yang jauh lebih bijak bagi para siswa.

"Kalau misalkan bisa nilai lebih bagus dari dulu dan bisa mulai belajar lebih dulu, itu jauh lebih bagus," ujarnya.

Menurut Ariel, institusi seperti Harvard memprioritaskan calon mahasiswa yang mempunyai sudut pandang unik, karakter kokoh, serta pengalaman hidup yang kaya dibandingkan sekadar angka di atas kertas.

"Kalau bisa berinteraksi sama orang lain juga, kalau menurut aku itu yang penting," ujarnya.

Kendala adaptasi sempat membayangi awal perkuliahan Ariel di Graduate School of Design (GSD) Harvard karena minimnya relasi dan jumlah mahasiswa asal Indonesia.

"Karena aku di GSD (Graduate School of Design), nggak banyak orang Indonesia, dan program itu kecil banget, cuma 18 orang, aku cukup kena mental," ujarnya.

Kondisi tekanan mental tersebut bahkan sempat memaksa Ariel untuk mengambil cuti kuliah demi memulihkan fokus dan penyesuaian diri.

"Make meaningful connections with people and be genuine (jalin hubungan yang bermakna dengan orang lain dan bersikaptuluslah)," katanya.

Ariel menyarankan agar para siswa mulai mengenali potensi serta ketertarikan personal guna membangun portofolio dan karya nyata yang relevan.

"Coba kenali diri sendiri, coba kenali apa yang kita inginkan mungkin," kata Ariel.

Baginya, tidak menjadi yang terbaik di bidang akademis bukan akhir dari segalanya, asalkan siswa mampu membuktikan keunggulan di bidang lain seperti musik atau desain.

"It's okay to be different, but it has to be right," lanjutnya.

Ia mendorong para siswa untuk tetap menekuni bidang non-akademis pilihan mereka secara serius hingga menghasilkan pembuktian yang konkret.

"Kalau misalkan kalian tidak di dunia akademis, ya sudah, di dunia apa? Musik? Oke, buktikan," katanya.

Pada akhir penjelasannya, Ariel mengingatkan pentingnya bersikap kompromis terhadap sistem yang ada sembari tetap menyisipkan jalur alternatif sebagai nilai tambah pribadi.

"Kadang-kadang kita harus kita yang kompromis, kita tetap harus ikuti jalur mainnya, tapi kita nanti bisa pakai jalur kita sendiri sebagai additional," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author