AS Bersiap Cetak Uang Kertas Pecahan Baru US$250 Gambar Donald Trump
Pemerintah Amerika Serikat kini bersiap mencetak uang kertas pecahan baru senilai US$250 dengan gambar Presiden Donald Trump jika disetujui parlemen, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Langkah ini memerlukan perubahan regulasi karena hukum federal melarang pencetakan mata uang bergambar orang yang masih hidup.
Rancangan undang-undang baru tersebut diusulkan tahun lalu oleh Joe Wilson, anggota DPR AS dari Partai Republik asal South Carolina. Apabila legislasi ini lolos di DPR dan Senat, uang kertas baru tersebut akan diterbitkan untuk memperingati hari jadi ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat.
Persiapan teknis saat ini tengah berjalan di bawah pengawasan Departemen Keuangan dan Bureau of Engraving and Printing (BEP). Meskipun konsep desain belum diumumkan, otoritas terkait memastikan uji tuntas sedang dilakukan guna mengantisipasi pengesahan regulasi tersebut.
"Jika mandat legislatif ini ditandatangani menjadi undang-undang, BEP bergerak secara proaktif untuk memproduksi uang peringatan US$ 250 yang akan secara tepat mengakui peringatan 250 tahun negara besar kita," kata juru bicara Departemen Keuangan dalam sebuah pernyataan.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di bawah otoritas Kongres. Pihaknya menegaskan akan mematuhi ketentuan hukum yang berlaku setelah proses legislasi selesai dilakukan.
"melihat ada hal yang tidak pantas" tentang gambar orang yang sedang menjabat pada uang peringatan 250 tahun negara tersebut, kata Scott Bessent, Menteri Keuangan.
Penerbitan pecahan baru ini berpotensi menabrak aturan federal lain mengenai batasan denominasi resmi mata uang. Saat ini, pecahan terbesar yang masih dicetak secara aktif oleh pemerintah Amerika Serikat adalah uang kertas senilai US$100.
Proses pengembangan uang kertas baru umumnya memerlukan waktu bertahun-tahun demi menjaga keamanan dan mencegah pemalsuan. BEP menyatakan bahwa pengumuman desain biasanya dilakukan setengah tahun sebelum peredaran resmi.
"Desain uang kertas biasanya dipublikasikan enam hingga delapan bulan sebelumnya untuk tujuan edukasi publik global dan edukasi penangan uang tunai," menurut BEP.
Pihak berwenang sengaja menutup rapat rincian visual demi meminimalkan risiko spekulasi dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Penjagaan ketat ini juga melibatkan Federal Reserve Board dan US Secret Service.
"Menerbitkan desain lebih awal akan membantu pemalsu dan menyebabkan kebingungan di pasar, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap mata uang AS," menurut BEP.
Rencana pencetakan mata uang baru ini memicu kritik keras dari kelompok oposisi di parlemen. Anggota Komite Perbankan Senat dari Partai Demokrat menilai kebijakan ini tidak relevan dengan kebutuhan mendesak masyarakat.
"Ketika warga Amerika susah payah menghadapi kenaikan harga bensin, bahan makanan, perumahan, dan perawatan kesehatan, prioritas Presiden Trump untuk penggunaan dana pembayar pajak benar-benar tidak menyentuh tantangan yang dihadapi keluarga setiap hari," kata Mark Warner, Senator AS.
Kritik tersebut menyoroti alokasi energi pemerintahan yang dianggap lebih fokus pada simbolisme personal dibandingkan penyelesaian masalah ekonomi riil. Warner menilai fokus kebijakan pemerintah saat ini tidak berpihak pada efisiensi anggaran negara.
"Jika Gedung Putih ini mengerahkan setidaknya setengah dari energi yang sama untuk menurunkan biaya seperti yang dilakukannya untuk memicu ego presiden, keluarga Amerika tidak akan membutuhkan uang kertas US$250 baru itu hanya untuk mengisi tangki bensin mereka," kata Mark Warner, Senator AS.
Sejak menjabat, Presiden Trump terus menyematkan identitas dirinya pada berbagai fasilitas publik dan simbol resmi negara. Perubahan ini mencakup penamaan ulang Kennedy Center, penyematan potret pada paspor, hingga pengecatan ulang pesawat kepresidenan Air Force One.