AS Dakwa Lima Orang Terkait Konspirasi Penembakan dan Pengeboman Acara UFC

Share

Departemen Kehakiman Amerika Serikat resmi mendakwa lima orang yang terlibat dalam konspirasi untuk menyerang kelompok miliarder serta politisi papan atas menggunakan bahan peledak dan penembak jitu pada Minggu, 14 Juni 2026. Plot maut tersebut menyasar para tamu yang menghadiri ajang tarung bebas UFC di halaman selatan Gedung Putih, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Juru bicara Departemen Kehakiman AS menyatakan kelima pelaku telah diringkus sebelum rencana tersebut sempat dieksekusi, dan saat ini semuanya berada dalam penahanan ketat. Otoritas berwenang menegaskan bahwa investigasi masih terus berjalan untuk memburu potensi adanya pelaku lain yang ikut bersekongkol.

Acara Ultimate Fighting Championship tersebut digelar oleh Donald Trump sekaligus untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-80 serta memperingati hari jadi ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat. Rencana serangan ini menambah rentetan kasus serupa yang menyasar Trump, setelah sebelumnya pada April lalu seorang pria asal California juga didakwa akibat menyerbu acara makan malam gala di Washington dengan senjata api.

Dokumen dakwaan pidana dan surat pernyataan yang dirilis Departemen Kehakiman pada hari Selasa mengungkap bahwa komplotan ini berencana menerbangkan sejumlah pesawat nirawak pembawa bom untuk diledakkan di atas kerumunan penonton. Tujuan peledakan tersebut adalah memaksa massa yang panik berlarian ke arah perimeter yang sudah diintai oleh para penembak jitu.

Berdasarkan catatan pengadilan, dalang utama bernama Tycen Proper (19) asal Ohio didakwa atas konspirasi tindak kejahatan melawan pemerintah, percobaan pembunuhan terhadap pegawai pemerintah, serta pelanggaran kepemilikan senjata api. Sementara empat anggota lainnya, yaitu Abraham Hermosillo Alvarez, Daniel Kenely Eskridge, Bryan Omar Roa, dan Michael Alan Thomas, didakwa atas konspirasi melakukan pembunuhan berencana.

Kuasa hukum Alvarez menolak memberikan komentar terkait kasus ini, sedangkan pengacara Proper dan Eskridge tidak segera merespons permintaan tanggapan. Berkas perkara untuk Roa dan Thomas saat ini masih disegel rapat dan perwakilan hukum mereka belum diketahui publik.

Surat pernyataan dari Biro Investigasi Federal mengungkapkan riwayat obrolan digital Proper yang membidik beberapa target politisi spesifik karena menerima aliran dana donasi dari kelompok pro-Israel. Target tersebut meliputi Senator Jim Justice, Marsha Blackburn, Shelley Moore Capito, serta Anggota DPR Carol Miller dan Riley Moore.

Para legislator yang menjadi target merespons kabar tersebut dengan campuran rasa lega dan kekhawatiran. Tim dari Senator Jim Justice telah menerima pengarahan dari FBI mengenai ancaman ini.

"Kami selalu wasnapada, kami selalu khawatir, tetapi pada saat yang sama saya tidak akan menjalani hidup dengan rasa takut," katanya dalam wawancara singkat di Gedung Capitol. "Saya akan terus melakukan pekerjaan saya."

Senator Marsha Blackburn melalui platform X menyatakan rasa ngeri mengetahui dirinya menjadi salah satu target serangan bersenjata tersebut.

"Saya tidak akan membiarkan orang gila seperti ini menghalangi saya untuk merayakan atau melayani negara yang hebat ini, dan saya berterima kasih kepada aparat penegak hukum yang telah menjaga keselamatan kami," ujarnya.

Senator Shelley Moore Capito menyoroti iklim politik saat ini yang penuh kemarahan sekaligus menyampaikan apresiasi atas kesiapan intelijen aparat keamanan. Namun, ia juga mengaku terganggu oleh penyebutan dukungan yang diterimanya dari American Israel Public Affairs Committee.

"Agresi terhadap saya secara pribadi sungguh mencengangkan," katanya.

Anggota DPR Carol Miller mengecam keras tindakan radikal tersebut dan meminta adanya tindakan hukum yang tegas bagi para pelaku.

"Kita harus memiliki toleransi nol terhadap kaum radikal yang menyebarkan antisemitisme dan kekerasan," kata Miller. "Siapa pun yang berusaha menyakiti orang lain akan ditangkap dan dihukum."

Anggota DPR Riley Moore juga menyampaikan apresiasi kepada aparat penegak hukum lokal maupun federal melalui media sosial.

"mengalami pertobatan hati," tulis Moore dalam pernyataannya di X saat mendoakan para pelaku.

Berdasarkan surat pernyataan FBI, ibu Proper sempat menghubungi aparat penegak hukum setempat pada malam 10 Juni karena khawatir terhadap perilaku putranya yang membeli senjata api. Dokumen tersebut juga membeberkan ideologi berbahaya yang dianut oleh kelompok konspirasi ini.

"Anggota kelompok tersebut meyakini bahwa Amerika Serikat perlu dihancurkan agar dapat dibangun kembali," bunyi surat pernyataan itu. "Sebagian dari mereka juga menyatakan keinginan agar orang-orang yang terlibat dengan Jeffrey Epstein tidak memerintah negara ini."

Surat pernyataan itu menyebut Proper dan para rekan konspiratornya berharap dapat memicu revolusi di Amerika Serikat melalui aksi tersebut. Aparat penegak hukum federal memperoleh percakapan di aplikasi Signal yang menunjukkan hampir 20 pengguna mendiskusikan persiapan operasional, meskipun catatan tidak menunjukkan apakah mereka telah berhasil memperoleh drone atau bom.

Wakil Direktur Secret Service, Matthew Quinn, dalam konferensi pers menjelaskan bahwa lembaganya memimpin penyelidikan terkait rencana serangan yang melibatkan drone dan penembak jitu ini.

"Hanya karena Freedom 250 telah selesai bukan berarti kami akan berhenti," katanya.

Menurut Quinn, acara tersebut tidak pernah berada dalam situasi berbahaya dan pembatalannya tidak pernah dipertimbangkan oleh otoritas keamanan. Direktur FBI, Kash Patel, turut memuji keberhasilan operasi lintas negara bagian ini melalui unggahan di akun X miliknya.

"Berkat tindakan cepat FBI ini, para mitra kami, dan Departemen Kehakiman dalam operasi lintas negara bagian, sejumlah individu kini telah ditahan dan rencana serangan berhasil digagalkan sepenuhnya," tulis Patel.

Kompleks Gedung Putih dan berbagai acara besar yang terkait dengan Trump terus menjadi sasaran kekerasan politik dalam beberapa tahun terakhir, termasuk insiden penembakan di Butler dan Florida pada 2024. Trump meremehkan beberapa upaya terbaru tersebut dan menyatakan tetap percaya kepada Secret Service, sambil mengusulkan pembangunan ballroom baru yang dilengkapi fasilitas keamanan ekstra.

"Kami dibangun untuk mendeteksi, merespons, dan membawa ke pengadilan siapa pun yang mengancam nyawa warga Amerika — terutama dalam acara besar seperti pertarungan bersejarah UFC 250," tulis Patel.

Hukuman atas vonis konspirasi untuk melakukan pembunuhan di bawah hukum federal dapat mencapai penjara seumur hidup dan denda maksimum sebesar 250.000 dolar AS. Sementara itu, konspirasi untuk melakukan tindak kekerasan di lingkungan Gedung Putih memiliki ancaman hukuman maksimum lima tahun penjara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author