AS dan Kanada Saling Terapkan Tarif Dagang Menyusul Gagalnya Perundingan

Share

Hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada memanas setelah negosiasi kesepakatan dagang kedua negara berakhir gagal pada Jumat (21/08). Ketegangan meningkat menyusul langkah balasan Kanada terhadap kebijakan pengenaan tarif impor sebesar 50 persen oleh Washington, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Sebagai respons atas langkah AS, Ottawa mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap berbagai komoditas AS yang berlaku mulai 8 September. Keputusan ini berpotensi memicu perang dagang terbuka mengingat AS menyerap sekitar 70 persen total ekspor Kanada.

Presiden AS Donald Trump menuding Kanada berupaya meraih keuntungan tanpa menjadi bagian dari AS. Lewat unggahan di platform Truth Social pada Minggu (23/08), ia juga menyoroti tarif tinggi yang sebelumnya diterapkan Kanada pada sektor pertanian AS.

"Mereka juga selama bertahun-tahun mengenakan tarif dalam jumlah besar kepada para petani hebat kami. Tidak lagi!" tulis Presiden AS Donald Trump di media sosial.

Di sisi lain, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi sektor perekonomian dalam negeri melalui kebijakan balasan bernilai setara.

"Kanada akan menyamai tarif baru Washington dolar demi dolar untuk melindungi pekerja, petani, keluarga, dan dunia usaha Kanada," kata Perdana Menteri Mark Carney kepada wartawan di Ottawa.

Ia menuturkan bahwa rincian komoditas AS yang menjadi sasaran balik akan segera diumumkan sebelum pemberlakuan efektif pada awal bulan mendatang.

"Dalam beberapa hari ke depan, kami akan mengumumkan rincian langkah-langkah tarif baru ini, yang akan mulai berlaku pada Selasa setelah Hari Buruh," ujarnya.

Terkait tuduhan pihak AS atas kegagalan perundingan dagang, pihak Ottawa menekankan penolakan terhadap syarat yang dinilai merugikan kepentingan nasional.

"Kami tidak dapat menerima apa yang mereka tawarkan, dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta," kata Carney.

Pemerintah Kanada melancarkan langkah konsolidasi internal untuk merespons perselisihan dagang yang dinilai sebagai bentuk ancaman langsung terhadap perekonomian negara.

"Anda berada dalam perang ketika diserang. Kami diserang," kata Carney.

Sektor ekspor Kanada senilai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp354 triliun diperkirakan terdampak tarif AS, mencakup produk seperti furnitur, pakaian, hingga produk susu. Sementara Kanada akan menargetkan barang impor AS seperti baja, mesin pertanian, dan elektronik.

Dukungan terhadap keputusan pembalasan tarif juga mengalir dari jajaran pejabat daerah serta pihak oposisi di Kanada.

"Saya senang dia (Cartney) tidak menandatangani kesepakatan itu karena itu adalah kesepakatan yang buruk. Kesepakatan itu buruk bagi Ontario. Buruk bagi sektor otomotif, sektor baja, dan sektor manufaktur," kata Perdana Menteri Ontario Doug Ford pada Sabtu.

Pemimpin Partai Konservatif yang menjadi oposisi resmi turut menyerukan solidaritas nasional guna menghadapi tekanan ekonomi dari negara tetangga tersebut.

Didesak oleh Pierre Poilievre, warga Kanada diminta untuk "bersatu mempertahankan negara kita dari serangan tidak adil terhadap lapangan kerja dan dunia usaha kita."

Sebaliknya, pengkritik di dalam negeri AS menyalahkan kebijakan tarif Donald Trump yang dianggap berpotensi merugikan konsumen domestik dan merusak kemitraan strategis.

"Tanpa alasan memicu perselisihan dengan sekutu kita dan menaikkan harga di dalam negeri. Itulah kebijakan ekonomi Trump, secara singkat," tulis Gubernur New York Kathy Hochul di platform X.

Kritik senada disampaikan Anggota Kongres Michigan Haley Stevens yang menyebut langkah perang dagang pemerintah AS tersebut tidak perlu dan berisiko tinggi.

Hingga saat ini, belum ada jadwal perundingan lanjutan yang direncanakan oleh kedua belah pihak untuk mengatasi kebuntuan diplomasi ekonomi ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author