AS Perketat Aturan Visa Pelajar Asing dan Pemilu
Pemerintah Amerika Serikat memperketat aturan tinggal bagi pelajar asing dan mengumumkan langkah baru terkait pengawasan infrastruktur pemilu pada Jumat, 17 Juli 2026. Kebijakan imigrasi terbaru ini membatasi masa tinggal maksimal serta memperluas kewenangan pemerintah federal dalam pengawasan visa. Berdasarkan aturan baru yang dirilis Kementerian Keamanan Dalam Negeri, pelajar asing pemegang visa F-1 dan J-1 kini hanya diizinkan tinggal maksimal empat tahun tanpa izin khusus.
Selain itu, waktu untuk meninggalkan AS setelah kelulusan dipangkas dari 60 hari menjadi 30 hari. Seketaris Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin menyatakan langkah ini diambil untuk mencegah penyalahgunaan sistem visa pelajar. Di sisi lain, Presiden Donald Trump juga menggunakan pidatonya untuk mendesak pengesahan Undang-Undang SAVE America terkait pengetatan syarat pendaftaran pemilih.
"Malam ini saya mengumumkan deklasifikasi segera dan rilis intelijen penting yang mengungkapkan kerentanan mengejutkan dalam infrastruktur pemilu kita. Bukti ini menunjukkan bahwa sistem pemilu yang kita miliki sangat mengekspos, dan sangat mengekspos, seperti tingkat yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, terhadap peretasan, eksploitasi, dan campur tangan asing," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pidato tersebut memicu perhatian luas di tengah sorotan terhadap internal Gedung Putih. Pasalnya, penyelidik federal baru saja menemukan bahwa operator teleprompter presiden, Gabriel Perez, meraup keuntungan finansial dengan bertaruh pada isi pidato Trump. "Jelas, saya mengetahui laporan tersebut.
Presiden juga mengetahuinya. Saya berbicara dengannya tentang hal itu. Dia percaya ini sangat tidak menguntungkan dan, sejujurnya, sebuah aib," ujar Karoline Leavitt, Juru Bicara Gedung Putih.
Sementara pemerintah fokus pada isu politik dan imigrasi, wilayah domestik AS juga tengah menghadapi ancaman lingkungan yang serius. Kabut asap pekat dari kebakaran hutan Kanada memicu peringatan kualitas udara berbahaya di lebih dari 20 negara bagian. "Apakah kita berbicara tentang panas, apakah kita berbicara tentang kualitas udara, atau apakah kita bahkan berbicara tentang tingkat air hujan dan banjir di kota kita, saya prihatin. Dan saya prihatin karena apa yang kita lihat adalah bahwa krisis iklim memperburuk begitu banyak hal yang dihadapi kota kita," kata Zohran Mamdani, Wali Kota New York.
Di sektor penegakan hukum, investigasi terhadap penembakan fatal warga sipil Joan Sebastián Durán Guerrero oleh agen ICE David Brouillette terus bergulir. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa pelaku memiliki riwayat gangguan kesehatan mental yang berat sejak masa kecil. "Afghanistan menghancurkannya — melatihnya untuk menjadi monster pembunuh, sebuah mesin.
Mereka mengambil seseorang yang sangat sakit jiwa dan mengubahnya menjadi mesin pembunuh," kata seorang kerabat David Brouillette, Anggota Keluarga Pelaku. Kasus penembakan ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Insiden tersebut terjadi pada Senin pagi saat korban hendak berangkat kerja.
"Sehari sebelum itu, dia membawanya ke taman, dan mereka bersenang-senang. Senin sore itu seharusnya menjadi harinya bersama ayahnya, tetapi dia tidak pernah pulang. Dan sekarang putri saya bertanya tentang ayahnya, dan saya tidak memiliki kekuatan untuk memberitahunya bahwa dia tidak akan datang, bahwa dia tidak bisa lagi memeluknya atau mengatakan, 'Ayah, aku mencintaimu'," kata Karolina Rojas Alvarez, Janda Joan Sebastián Durán Guerrero.