AS Putar Kapal Induk USS Abraham Lincoln Usai Penugasan Perang Iran
Amerika Serikat menarik kapal induk USS Abraham Lincoln dari kawasan Timur Tengah setelah merampungkan misi operasi lebih dari 250 hari. Langkah pemulangan ini diumumkan usai armada penyeimbang USS George Washington resmi tiba di wilayah operasi Komando Pusat AS pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Pengalihan armada tempur tersebut dipicu oleh gelombang kritik terkait kondisi kesejahteraan prajurit di atas USS Abraham Lincoln. Kapal yang membawa sekitar 5.000 personel Angkatan Laut dan Korps Marinir AS itu mencatatkan rekor pelayaran tanpa henti paling lama dalam sejarah militer AS.
Sejumlah laporan media dan keterangan keluarga prajurit menyebutkan terjadinya krisis kesehatan mental, percobaan bunuh diri, serta penurunan moral awak kapal. Selain itu, masalah ketersediaan logistik seperti bahan makanan, pasokan air bersih, produk sanitasi, hingga kerusakan sistem saluran air turut dikeluhkan selama pelayaran berlangsung.
Kepastian pemulangan armada ini ditegaskan langsung oleh pimpinan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, melalui tulisan di media massa.
"Para awak kapal telah menunjukkan kinerja yang luar biasa, dan kini kalian akan pulang," tulis Laksamana Cooper.
Laksamana Brad Cooper menambahkan salam perpisahan untuk mengapresiasi kinerja seluruh personel militer yang telah menuntaskan misi panjang tersebut.
"Semoga perjalanan kalian lancar dan selamat menikmati reuni yang memang layak kalian dapatkan," tulis Cooper.
Pihak Angkatan Laut AS membantah kabar bahwa kondisi kapal berada dalam tingkat kritis. Pejabat militer menegaskan bahwa pemeliharaan kapal tetap berjalan dan para awak tetap mendapat pasokan fasilitas dasar seperti pendingin udara dan makanan yang layak.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut memberikan pernyataan mengenai tuduhan buruknya kondisi operasional di armada tersebut.
"AS dapat mempertahankan blokade tersebut untuk jangka waktu tak terbatas," kata Hegseth.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran publik mengenai masa pengerahan armada yang dinilai terlampau lama.
"Selama bertahun-tahun, kita pernah menugaskan mereka di sana jauh lebih lama dari itu," ujar Trump.
Pergerakan USS George Washington dari kawasan Asia-Pasifik menuju Timur Tengah sekaligus meninggalkan kekosongan armada kapal induk AS di kawasan Pasifik. Mantan Komandan Carrier Strike Group 5, Laksamana Muda (Purn) Mark Montgomery, menilai keputusan tersebut membawa dampak pada stabilitas keamanan kawasan Asia.
"Ini merupakan risiko keamanan nasional karena mengirimkan pesan pencegahan yang lemah kepada China dan tidak memberikan jaminan keamanan bagi sekutu serta mitra Amerika di Pasifik," kata Montgomery.
Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Greg Poling, menyebut bahwa dinamika pengalihan kekuatan militer AS ini memberikan keuntungan bagi pihak eksternal.
"(China) cukup senang dengan teralihnya perhatian AS serta rasa frustrasi yang dialami oleh sekutu dan mitra AS," ujarnya.
Saat ini USS Abraham Lincoln sedang menempuh perjalanan kembali menuju pangkalan asalnya di Amerika Serikat, yang diperkirakan memakan waktu berlayar lebih dari satu bulan.