Aura Kasih Bagikan Pengalaman Jadi Orang Tua Tunggal bagi Arabella

Share

Aura Kasih berbagi pengalaman menjadi orang tua tunggal untuk putrinya, Arabella, yang tumbuh sebagai anak ceria dan bahagia, di Jakarta Selatan, kemarin.

Ia mengakui peran ganda sebagai ayah dan ibu tidak mudah, namun kebahagiaan anak menjadi prioritas utama.

Menurut Aura, karakter anak generasi Alpha kerap memberikan kejutan dengan pemikiran dan cara bicara yang kritis dan cepat.

"Lumayan agak berat, tapi aku lihat anaknya, anaknya happy kok dan dia itu ceria sekali. Aku lihat kalau dia happy ya udah, yang penting dia happy aja," ujar Aura Kasih.

Ia menilai pola asuh keras generasi sebelumnya tidak cocok diterapkan pada anak zaman sekarang yang lebih sensitif saat ditegur.

"Dulu kan kita apa dikit emak kita dulu VOC banget, kan marah kalau gak disentak, dipukul gitu kan. Ini kan gak bisa gitu. Ini anak disentak apa bete dong, bad mood," kata Aura Kasih.

Aura merasa perlu berintrospeksi dan belajar dari sikap anak yang lebih kritis dan responsif terhadap perlakuan orang tua.

"Kayak aduh nih kok soft banget ya, gitu. Anak sekarang emang kayak gitu, dimarahin dikit ngomelnya terus habis itu bete, mengkritik gitu kan. Tapi buat kita kontemplasi jugalah, 'oh ternyata aku begini ya'. Ya udahlah belajar dari anak, contohnya," katanya.

Ia juga sering terkejut dengan celetukan putrinya, terutama saat diajak menghabiskan makanan.

"Banyak, aku gak ingat, banyak banget beneran. Kayak makan siang, 'Bell, makan siang habiskan, tinggal dua suap lagi'. 'Kenapa gak dihabisin?' 'Ya kalau udah kenyang kan harusnya udah, ngapain dipaksa-paksa?' Wow, ya udah gak bisa ngomong apa-apa lagi. Terserah deh, alpha udah," ujar Aura.

Aura memilih pola asuh yang lebih lembut dan berdiskusi daripada keras, berbeda dengan pengalamannya dulu yang penuh hukuman keras.

"Oh gak boleh VOC. Kita dulu kan udah hantaman VOC banget, kan. Tapi aku juga bersyukur loh dulu digalakin begitu, buktinya kan jadi kuat.

Jadi kayak, 'Ah gue udah biasa sama emak gue sendiri, gitu kan, jadi oke-oke aja'. Nah ini si alpha, alpha ini gak boleh, harus jinak-jinak merpati," jelasnya.

Dia juga berhati-hati agar pola asuh tidak menyebabkan trauma bagi anak, mengingat generasi saat ini lebih sensitif terhadap tekanan emosional.

"Dikencengin dianya takutnya ke depannya juga trauma. Apalagi zaman sekarang tuh dikit-dikit, kan, punten ya, anak-anak gen z, apa anak-anak gen z sekarang apa-apa dikit inner child jelek, terus apa-apa dikit mental illness, gitu kan. Jadi wah gue harus jaga nih karena juga ya apa ya agak repot nih alpha, nih beneran lebih kritis dari gen z. Lihat aja entar," beber Aura.

Untuk hukuman, Aura lebih memilih komunikasi untuk menyampaikan kesalahan daripada pendekatan keras.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author