Bahan Kimia Wadah Plastik Terbukti Turunkan Kualitas Sperma Pria

Share

Paparan zat kimia dari kemasan makanan plastik terbukti dapat memperburuk kualitas sperma pria. Temuan tersebut diungkapkan melalui sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Jepang.

Isu mengenai keamanan wadah pangan belakangan ini terus menyita perhatian publik. Hal ini seiring dengan meningkatnya studi yang menghubungkan dampak buruk bahan kimia kemasan saat masuk ke dalam tubuh.

Dikutip dari Detik Food, riset dari ilmuwan Osaka Metropolitan University ini secara khusus meneliti efek Bisphenol A atau BPA. Zat sintetis tersebut sudah lama dipakai untuk memperkuat struktur plastik dan lapisan kaleng makanan agar tahan panas.

Meski membuat wadah menjadi lebih kokoh, senyawa BPA diketahui dapat luruh dan bercampur dengan makanan atau minuman yang ada di dalamnya. Proses peluruhan inilah yang kemudian memicu risiko bagi kesehatan manusia.

Berbagai riset terdahulu menunjukkan bahwa akumulasi BPA dalam tubuh berkaitan erat dengan gangguan reproduksi pria. Efek buruknya meliputi penurunan jumlah sperma, perlambatan pergerakan, hingga memicu abnormalitas bentuk sperma.

Melalui pengujian pada hewan laboratorium, tim ilmuwan mendapati bahwa paparan BPA memicu stres oksidatif. Kondisi ini terjadi ketika jumlah radikal bebas melonjak tinggi dan merusak sel-sel tubuh yang sehat.

Penurunan kualitas reproduksi tersebut bahkan terdeteksi dalam waktu yang relatif singkat. Radikal bebas pada sperma terbukti meningkat hanya dalam satu minggu setelah hewan uji terpapar zat kimia tersebut.

Dampak buruk berlanjut pada minggu kedelapan, di mana kemampuan gerak sperma mengalami penurunan drastis. Penurunan ini mencakup aspek kecepatan serta pergerakan bagian kepala sperma yang menjadi motor utama proses pembuahan.

Guna mengatasi kerusakan sel akibat stres oksidatif tersebut, para peneliti melakukan pengujian terhadap senyawa penawar. Mereka menemukan potensi pada FK-23, sebuah suplemen paraprobiotik dari bakteri Enterococcus faecalis.

Bakteri alami saluran pencernaan manusia ini terlebih dahulu melalui proses pemanasan agar tidak aktif sehingga aman dikonsumsi. Komponen bakteri yang telah mati tersebut diyakini tetap bekerja optimal merangsang sistem imun melalui saluran pencernaan.

Hasil uji menunjukkan pemberian FK-23 pada hewan yang terpapar BPA mampu memperbaiki pergerakan sperma kembali normal. Suplemen ini juga efektif menekan indikator kerusakan pada sel-sel reproduksi.

Penemuan ini memberikan harapan baru terkait metode penanganan dampak buruk zat kimia lingkungan terhadap sistem kesuburan pria.

"Kami menemukan bahwa komponen dari bakteri asam laktat memiliki efek perlindungan terhadap gangguan reproduksi akibat bahan kimia lingkungan," ujar Profesor Yukiko Minamiyama dari Graduate School of Medicine Osaka Metropolitan University.

Kendati menunjukkan hasil positif pada hewan uji, tim peneliti menegaskan masih memerlukan studi klinis lanjutan pada manusia. Langkah ini penting untuk menguji tingkat efektivitas dan keamanan suplemen tersebut secara nyata.

Hingga saat ini, penggunaan BPA dalam produk konsumen dan kemasan makanan massal masih legal di sejumlah wilayah. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan tingkat keluruhan BPA saat ini masih dalam batas aman.

Sebaliknya, regulasi yang jauh lebih ketat sudah diterapkan di belahan dunia lain. Uni Eropa kini telah mengambil kebijakan tegas dengan melarang total penggunaan BPA pada seluruh wadah makanan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author