Bank Indonesia Optimalkan SRBI untuk Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Share

Bank Indonesia mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Kamis (18/6/2026) di Jakarta demi menarik aliran dana portofolio asing jangka pendek. Langkah intervensi moneter ini diambil sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah yang tertekan akibat tingginya permintaan korporasi terhadap dolar AS dan aktivitas perekonomian.

Berdasarkan data operasional yang dilansir dari Bloomberg Technoz, posisi instrumen moneter ini telah menembus rekor tertinggi baru sejak pertama kali diluncurkan. Bank Indonesia melaporkan bahwa per 15 Juni 2026, nilai outstanding SRBI sudah menyentuh angka Rp1.021,1 triliun dengan porsi kepemilikan investor nonresiden atau asing mencapai Rp238,1 triliun, atau setara dengan 23,3 persen dari total outstanding.

Peningkatan volume instrumen ini didorong oleh kebijakan bank sentral yang menaikkan tingkat imbal hasil demi mendongkrak daya tarik investasi. Sejak 13 Mei 2026, Bank Indonesia menetapkan suku bunga SRBI sebesar 6,21 persen untuk tenor 6 bulan, 6,31 persen untuk tenor 9 bulan, dan 6,45 persen untuk tenor 12 bulan.

“Outstanding ini turut mendukung stabilitas rupiah,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers digital di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Penyesuaian tingkat suku bunga yang dilakukan oleh bank sentral tersebut sengaja dirancang untuk mempertebal cadangan devisa dari modal jangka pendek.

“Suku bunga SRBI dinaikkan untuk menarik aliran dana portopolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” terang Perry.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bank indonesia rupiah srbi
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author