Bank Indonesia Beberkan Penyebab Rupiah Melemah ke Rp17.874 per Dolar

Share

Bank Indonesia membeberkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh posisi Rp17.874 per dolar AS dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, Jumat (29/5/2026).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, penurunan mata uang domestik ini juga dipicu oleh lonjakan musiman kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri serta repatriasi dividen di tengah keterbatasan pasokan dolar AS.

Otoritas moneter merespons situasi ini dengan menegaskan kehadiran mereka di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar mata uang Garuda dari tekanan eksternal yang terus berlanjut.

“Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers, Jumat (29/5/2026).

Denny menjelaskan langkah konkret penanganan fluktuasi ini dilakukan melalui intervensi pasar valas pada transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market juga ikut diperkuat demi mempertahankan daya tarik aset keuangan dalam negeri serta merangsang masuknya aliran modal dari luar negeri.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” jelas Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.

Pembatasan sisi permintaan juga diterapkan melalui penetapan ambang batas tunai pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi sebesar US$25.000 per pelaku per bulan yang mulai diimplementasikan pada Juni 2026.

Penutupan perdagangan mencatat rupiah terdepresiasi sebesar 0,48 persen yang menandai rekor posisi terendah sepanjang sejarah sekaligus mengakumulasikan penurunan sebesar 2,91 persen sepanjang Mei 2026.

Meskipun sentimen investor global terhadap ketegangan AS dan Iran sempat membaik berkat gencatan senjata 60 hari di Selat Hormuz yang memicu penguatan mayoritas mata uang Asia, rupiah bersama won Korea Selatan dan dolar Singapura justru mencatatkan pelemahan terdalam.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author