Bank Indonesia Gelar Rapat Dewan Gubernur Tentukan Suku Bunga Acuan

Share

Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (18/6/2026) siang untuk menentukan kebijakan suku bunga acuan, di mana terdapat tiga pertimbangan utama yang diperkirakan bakal menahan tingkat suku bunga tersebut, dilansir dari Bloomberg Technoz.

Dosen Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya YB Suhartoko menilai kebijakan moneter yang diambil oleh BI sebelumnya telah berjalan cukup efektif dalam menstabilkan perekonomian domestik.

"Untuk besok kemungkinan besar BI tidak akan menaikkan suku bunga, karena 3 hal yg dilakukan BI sebelumnya, yaitu menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin, menaikkan suku bunga SRBI dan menurunkan biaya hedging," kata Suhartoko, Dosen Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya.

Langkah-langkah tersebut dinilai berhasil menguatkan kembali posisi mata uang rupiah hingga berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS. Ketidakpastian global juga dinilai mereda seiring dengan penurunan tensi geopolitik di Timur Tengah.

"Selain itu menurunnya eskalasi perang Iran melawan AS dan Israel serta telah dibukanya selat Hormuz telah mengurangi ketidakpastian dan risiko, sehingga rupiah diperkirakan kemungkinan menguat kembali." kata Suhartoko, Dosen Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya.

Kendati demikian, peningkatan suku bunga acuan berisiko memicu dampak instan pada pasar keuangan, khususnya terhadap yield surat berharga domestik yang dapat meningkatkan biaya obligasi.

"Yield surat berharga domestik akan meningkat dan ini berarti meningkatkan biaya obligasi, karena kebijakan moneter lebih cepat ditransmisikan ke pasar keuangan," kata Suhartoko, Dosen Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya.

Suhartoko menambahkan bahwa kondisi pasar kredit saat ini cenderung masih aman dari gejolak karena melimpahnya likuiditas perbankan serta transmisi kebijakan yang membutuhkan waktu lebih lama.

"Mengingat permintaan kredit masih rendah terlihat dari deposan dengan prime rate masih cukup banyak, undisbursement loan cukup tinggi," kata Suhartoko, Dosen Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya.

Berdasarkan data saat ini, nilai kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan di sektor perbankan tercatat mencapai angka Rp2.527,46 triliun, atau setara dengan 22,59% dari total plafon kredit yang tersedia.

"Fenomena ini mencerminkan pelaku usaha yang masih menahan ekspansi bisnis sembari menunggu momentum ekonomi yang tepat," kata Suhartoko, Dosen Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author