Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Utama Jadi 1 Persen

Share

Bank of Japan resmi menaikkan suku bunga acuan overnight tanpa agunan sebesar seperempat poin persentase menjadi 1 persen pada Selasa, 16 Juni 2026. Langkah ini diambil untuk menormalisasi kebijakan moneter dan meredam lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi global.

Dilansir dari AP News dan BBC, tingkat bunga baru ini merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun terakhir sejak 1995. Keputusan tersebut dipicu oleh tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak mentah akibat perang Iran, yang membebani Jepang sebagai importir besar gas dan minyak.

Ekonom Jepang, Jesper Koll, menilai bahwa kebijakan darurat atau manajemen krisis moneter sudah tidak lagi diperlukan oleh otoritas keuangan negara tersebut.

"After twenty years of deflation, Japan is now in an inflationary upcycle," kata Jesper Koll kepada BBC.

Koll menambahkan bahwa Bank of Japan saat ini ingin mengembalikan arah kebijakan moneter mereka ke kondisi yang normal.

"Emergency/crisis management monetary policy is no longer needed and the BOJ wants to get back to a normal monetary policy," ujar Jesper Koll.

Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, dilaporkan absen dalam rapat dewan kebijakan karena harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat kista hati yang terinfeksi. Posisi Ueda digantikan oleh Wakil Gubernur Shinichi Uchida dalam konferensi pers.

Uchida menegaskan bahwa ketidakhadiran Ueda tidak memengaruhi proses pengambilan keputusan bank sentral.

"I feel sad about his absence, but it did not affect our ability to set policy," kata Shinichi Uchida kepada para jurnalis.

Uchida juga menyatakan bahwa pergerakan mata uang yen yang melemah hingga menyentuh 160 per dolar AS terus dipantau secara ketat, dan bank sentral akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap.

Sebelum jatuh sakit, Kazuo Ueda sendiri sempat menyampaikan pandangannya awal bulan ini mengenai potensi diskusi lebih lanjut terkait kenaikan suku bunga kebijakan jika risiko kenaikan harga melebihi risiko aktivitas ekonomi.

"Even if the situation remains unclear, should it be judged that upside risks to prices outweigh downside risks to economic activity, it will be necessary to thoroughly discuss the pros and cons of raising the policy interest rate," kata Kazuo Ueda.

Meskipun inflasi grosir Jepang melonjak lebih dari 6 persen pada Mei, tingkat inflasi keseluruhan pada April tercatat sebesar 1,4 persen. Angka tersebut masih berada di bawah target inflasi jangka panjang yang ditetapkan sebesar 2 persen.

Bank of Japan dalam pernyataan resminya memperingatkan adanya risiko eksternal yang dapat membuat inflasi menyimpang di atas target, terutama dari situasi Timur Tengah dan perkembangan permintaan global terkait kecerdasan buatan (AI).

"Taking into account that medium- and long-term inflation expectations have also continued to increase, there is a risk of underlying inflation deviating above our price target," tulis pernyataan resmi Bank of Japan.

Profesor bisnis dari University of California San Diego, Ulrike Schaede, menilai bahwa kenaikan nilai mata uang ini tidak akan merugikan perekonomian domestik Jepang.

"There has been a sense that the yen is too cheap and that raising its currency will not hurt," kata Ulrike Schaede.

Schaede menambahkan bahwa penyesuaian yang terjadi saat ini bisa menjadi penanda adanya perubahan struktural global yang bergerak secara perlahan.

"But what we are seeing could signal "a slow global realignment," ujar Ulrike Schaede.

Di pasar saham, indeks acuan Tokyo Nikkei 225 sempat melewati angka 70.000 sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,1 persen setelah pengumuman kebijakan tersebut dikeluarkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author