Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga Jadi 1 Persen
Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen pada Selasa (16/6/2026) demi membendung pembengkakan inflasi dan menstabilkan mata uang yen. Langkah pengetatan moneter ini mencatatkan tingkat suku bunga tertinggi di Jepang dalam 31 tahun terakhir sejak 1995.
Dilansir dari laporan CNBC Indonesia dan Kompas.com, penyesuaian ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bagi Jepang sejak Desember 2025. Otoritas moneter terpaksa mengambil tindakan agresif menyusul depresiasi nilai tukar yen yang terus tertekan serta ketidakpastian pasokan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Wakil Gubernur BOJ Shinichi Uchida menjelaskan bahwa bank sentral kini meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko inflasi yang didorong oleh lonjakan harga komoditas energi serta depresiasi nilai tukar yen.
"Inflasi inti semakin mendekati target 2 persen dan terdapat risiko kenaikan harga yang lebih luas," kata Shinichi Uchida, Wakil Gubernur BOJ.
Uchida menambahkan bahwa situasi pasar dalam negeri menunjukkan tren positif karena berkurangnya risiko perlambatan ekonomi, walau pasokan energi global masih dibayangi ketidakpastian distribusi minyak dunia.
"Dibandingkan pertemuan sebelumnya, memang ada kemajuan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan. Namun masih terdapat ketidakpastian mengenai pemulihan distribusi minyak," ujar Shinichi Uchida, Wakil Gubernur BOJ.
Dinamika perekonomian domestik Jepang juga memperlihatkan penguatan karena sektor industri mulai menyesuaikan upah pekerja secara merata.
"Hubungan antara kenaikan upah dan harga semakin mengakar dalam perekonomian Jepang," kata Shinichi Uchida, Wakil Gubernur BOJ.
Otoritas moneter tersebut menegaskan komitmennya untuk terus memantau stabilitas sektor finansial agar kebijakan yang diambil tidak terlambat mengantisipasi lonjakan harga.
"Dengan inflasi yang mendekati target 2 persen, kami perlu mewaspadai risiko kenaikan harga dan memastikan kebijakan tidak tertinggal dari perkembangan inflasi," ujar Shinichi Uchida, Wakil Gubernur BOJ.
Sementara itu, Kepala Ekonom Asia HSBC Frederic Neumann menilai kebijakan pengetatan ini sejalan dengan proyeksi pasar setelah pimpinan bank sentral memberikan sinyal dalam pidatonya awal bulan ini.
"Efek limpahan inflasi yang berasal dari harga minyak mentah yang lebih tinggi lebih mungkin menyebabkan penyimpangan ke atas dalam inflasi inti," kata Frederic Neumann, Kepala Ekonom Asia HSBC sebagaimana dikutip dari detikcom.
Di sisi lain, efektivitas intervensi mata uang tanpa adanya perubahan mendasar pada kebijakan moneter dalam negeri sempat menuai kritik dari analis keuangan karena dinilai kurang optimal.
"Intervensi tanpa mengubah kebijakan moneter domestik seperti menginjak rem sambil tetap menginjak pedal gas paling banter, penumpang Anda sedikit bersenang-senang, paling buruk, Anda menghabiskan kampas rem," kata Jesper Koll, Direktur Ahli Monex Group.
Sebelum kebijakan ini diputuskan, nilai tukar yen sempat terperosok hingga menyentuh level 160 per dolar AS sepanjang Juni meskipun pemerintah Jepang telah menggelontorkan dana intervensi sebesar 11,7 triliun yen pada Mei lalu. Guna melindungi daya beli masyarakat dari pembengkakan biaya impor, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi merilis anggaran tambahan sebesar 3 triliun yen untuk menyubsidi pos pengeluaran energi rumah tangga.