Bentrokan Faksi Pecahan FARC di Kolombia Tewaskan 48 Orang

Share

Pertempuran sengit antara dua faksi pecahan gerakan gerilya FARC di wilayah Amazon, Kolombia mengakibatkan sedikitnya 48 orang tewas menjelang pemilihan presiden pada Kamis (28/5), seperti dilansir dari Detikcom.

Aksi kekerasan ini tercatat sebagai salah satu gelombang konflik terburuk sejak FARC menyerahkan senjata pada 2016 setelah berperang selama setengah abad melawan pemerintah.

Sejumlah kelompok gerilyawan kecil kini saling berebut kendali atas wilayah hutan yang ditinggalkan tentara pemberontak, termasuk mengincar keuntungan dari sektor perdagangan narkoba dan pertambangan ilegal.

Bentrokan bersenjata tersebut dilaporkan terjadi di wilayah dusun Vereda Piripal, sedangkan data jumlah korban tewas sementara ini dihimpun berdasarkan laporan dari masyarakat setempat.

Sumber militer menyebutkan bahwa pertempuran di wilayah yang menjadi basis historis FARC itu sudah dimulai sejak Senin, namun kepastian mengenai situasi terkini belum diketahui lantaran tim penyelamat belum mencapai lokasi.

Wali Kota San Jose del Guaviare, Willy Rodriguez menyatakan bahwa posisi koordinat penemuan korban berjarak sekitar enam jam dari ibu kota regional dan membutuhkan tindakan evakuasi segera.

"Jenazah-jenazah tergeletak bertumpuk di sana, mereka perlu segera dievakuasi," kata Willy Rodriguez, wali kota ibu kota regional San Jose del Guaviare, yang berjarak sekitar oke enam jam dari lokasi pertempuran, kepada AFP melalui sambungan telepon, seperti dilansir Jumat (29/5/2026).

Pertumpahan darah ini menjadi pukulan baru bagi strategi perdamaian total dari Presiden sayap kiri Gustavo Petro yang akan segera lengser, di mana isu keamanan tersebut kini menjadi sorotan utama dalam kampanye pemilihan presiden.

Menteri Pertahanan Pedro Sanchez menjelaskan bahwa otoritas terkait telah mengoordinasikan ratusan ribu personel gabungan demi menjamin kelancaran dan keamanan jalannya pemungutan suara di tengah situasi yang rawan.

Menteri Pertahanan Pedro Sanchez mengatakan sebanyak 408 ribu personel keamanan yang didukung "pesawat, kapal, drone, sistem anti-drone, dan kendaraan lapis baja" telah dikerahkan untuk memastikan pemungutan suara berlangsung aman dan damai.

Jika tidak ada kandidat yang berhasil meraih lebih dari 50 persen suara pada pemilu 31 Mei, putaran kedua antara dua kandidat teratas dijadwalkan bakal digelar pada 21 Juni.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author