Bank Indonesia Salurkan Insentif Likuiditas Makroprudensial Rp418,1 Triliun

Share

Bank Indonesia menggelontorkan insentif likuiditas makroprudensial senilai Rp418,1 triliun hingga pekan pertama Juni 2026 demi mendorong penyaluran kredit perbankan ke sejumlah sektor prioritas. Kebijakan ini mayoritas menyasar bank-bank milik negara, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (19/6/2026). Penyaluran dana tersebut terbagi ke dalam dua jalur utama berdasarkan hasil laporan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Jalur penawaran atau lending channel mendominasi insentif dengan nilai mencapai Rp355,6 triliun, sementara jalur suku bunga atau interest rate channel mencatatkan penyerapan sebesar Rp62,5 triliun. "Berdasarkan alokasinya, insentif pada lending channel tercatat sebesar Rp355,6 triliun, sedangkan interest rate channel sebesar Rp62,5 triliun," demikian tertulis dalam laporan hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode Juni 2026, dikutip Jumat (19/6/2026).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa optimalisasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial ini secara konsisten diarahkan untuk memacu pertumbuhan kredit. Distribusi dana berdasarkan kelompok perbankan menunjukkan bank BUMN menerima alokasi terbesar senilai Rp209,6 triliun.

Bank umum swasta nasional menempati posisi kedua dengan realisasi insentif sebesar Rp169,9 triliun, diikuti oleh Bank Pembangunan Daerah yang mendapatkan Rp30,8 triliun. Adapun kantor cabang bank asing menerima kucuran dana terkecil, yakni senilai Rp7,8 triliun. Sektor-sektor prioritas yang menjadi target penyaluran insentif ini mencakup bidang pertanian, industri, serta hilirisasi. Bank Indonesia juga mengarahkan stimulus likuiditas ini ke sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, perumahan, hingga sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author