BMKG Paparkan Metode Menentukan Hilal Awal Bulan Hijriah
Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia melibatkan proses teknis yang terstruktur setiap bulan. Dilansir dari Detikcom, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan awal bulan tersebut pada tanggal 29 melalui dua mekanisme utama.
Metode pertama adalah hisab, yang mengandalkan kalkulasi data serta rumus pergerakan matahari dan bulan. Cara ini berfungsi untuk menghitung perkiraan matematis kapan hilal akan muncul di ufuk.
Metode kedua berupa rukyat, yaitu aktivitas pengamatan langsung di langit. Proses ini bertujuan untuk memverifikasi secara faktual apakah hilal sudah dapat terlihat atau belum.
Kementerian Agama selanjutnya membahas hasil dari kedua metode tersebut dalam sidang isbat. Sidang ini menjadi instansi final untuk menetapkan keputusan resmi mengenai awal bulan Hijriah.
Indonesia menerapkan standar khusus dalam mengukur keterlihatan hilal yang merujuk pada ketetapan MABIMS. Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi BMKG @infobmkg, hilal dinyatakan memenuhi kriteria imnakur rukyat jika mencapai parameter tertentu.
Parameter pertama mensyaratkan tinggi hilal minimal berada pada 3°. Standar kedua menetapkan jarak sudut antara bulan dan matahari atau elongasi minimal sebesar 6,4°.
Kondisi hilal dinilai belum memungkinkan untuk dilihat apabila belum mencapai angka-angka minimal tersebut. Hal ini berpengaruh langsung pada waktu pengumuman hari raya keagamaan.
Perbedaan Prediksi Waktu Idul Fitri dan Idul Adha
Masyarakat sering melihat pengumuman Idul Fitri terkesan mendesak menjelang malam hari raya. Kondisi ini terjadi karena Idul Fitri jatuh tepat pada tanggal 1 Syawal.
Pemerintah wajib melakukan pengamatan pada tanggal 29 Ramadan selepas matahari terbenam untuk memastikan perpindahan bulan. Oleh sebab itu, hasil keputusan sidang isbat baru dapat disiarkan pada malam hari.
Situasi berbeda berlaku untuk Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijah, bukan di awal bulan. Sidang isbat dilakukan untuk menentukan tanggal 1 Zulhijah terlebih dahulu.
Tanggal 10 Zulhijah otomatis dapat langsung dihitung begitu awal bulan Zulhijah sudah dipastikan kelolosannya. Faktor inilah yang membuat waktu Idul Adha dapat diprediksi lebih awal daripada Idul Fitri.
Variabel Teknis BMKG dalam Pengamatan
BMKG memantau sejumlah unsur astronomis dan lingkungan sewaktu melaksanakan pengamatan hilal di lapangan. Variabel utama meliputi posisi Bulan dan Matahari, tinggi hilal, umur bulan, serta lag atau selisih waktu terbenam antara Bulan dan Matahari.
Faktor lain yang dihitung adalah fraksi iluminasi atau bagian Bulan yang mendapat paparan cahaya Matahari, elongasi, hingga visibilitas hilal. Kondisi meteorologis seperti cuaca, ketebalan awan, dan tingkat kecerlangan langit turut menjadi penentu keberhasilan pengamatan.