BNPB mencatat 8.900 hektare lahan terbakar di Kalimantan Selatan

Share

BNPB mencatat sekitar 8.900 hektare lahan terbakar di Kalimantan Selatan, sementara personel gabungan dan sarana pemadaman terus dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan menyebut angka itu merupakan rekapitulasi terhitung sampai hari pelaporan, serta menilai kebakaran berdampak pada beberapa area dengan hotspot tinggi.

Djohan mengatakan kabut asap sempat muncul di Kalsel pada 19-20 Agustus, dan kondisi itu menjadi perhatian BNPB bersama satuan tugas udara dan darat.

"Terhitung sampai tanggal sekarang yang terbakar kurang lebih ada 8.900 hektare di wilayah Kalimantan Selatan," kata Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan.

Ia menjelaskan hotspot berada terutama di ring 1 yang mendekati bandara, yakni wilayah Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut.

"Di Kalimantan Selatan ada beberapa hotspot yang cukup tinggi, khususnya berada di ring 1 yang mendekati bandara, Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut," ujarnya.

Djohan menambahkan, pada sekitar tanggal 19 kabut asap muncul khususnya pada pagi hari hingga tanggal 20, sehingga menjadi atensi terhadap operasi yang dilakukan Satgas Udara.

"Dalam hal ini memang pada sekitar tanggal 19 terjadi kabut asap khususnya di pagi hari sampai tanggal 20. Ini pun juga menjadi atensi buat BNPB dengan Satgas Udara-nya maupun Satgas Udara yang kita gelar," sambungnya.

Menurutnya, kondisi di lapangan mulai membaik, namun proses pemadaman dan pendinginan tetap berjalan di lokasi terdampak.

Djohan menyatakan sekitar 9.800 personel gabungan dikerahkan, termasuk sembilan unit helikopter untuk penanganan karhutla di Kalsel.

Ia juga memperkuat respons di Kalimantan Barat, dengan 11 unit helikopter yang dioperasikan untuk patroli udara serta penguatan di area terdampak seperti Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.

"Kalimantan Barat kita sudah menggelar unit-unit heli, terdiri dari 11 unit. Yang mana dalam hal ini ada patroli udara 2 unit, OMC yang sampai saat ini masih belum beroperasi, jadi beralih menjadi operasi udara karena pertumbuhan udara sampai saat ini belum ada di daerah Kalimantan Barat," jelasnya.

BNPB menyiagakan enam unit water bombing, dua base satgas udara di Bandara Supadio dan Ketapang, serta mengalihkan dukungan helikopter untuk memperkuat wilayah selatan.

"Jadi, unit-unit heli patroli dan WB kita ada yang bergeser untuk memperkuat daerah-daerah yang terdampak di wilayah Kalimantan Barat, khususnya yang di daerah Selatan, ya, dalam hal ini Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya," paparnya.

Selain itu, BNPB mencatat peningkatan intensitas titik panas di Kalimantan Tengah dan mengerahkan 10 unit helikopter untuk patroli serta water bombing, disertai penyiapan base di Bandara Tjilik Riwut dan Kabupaten Sampit.

"Di sini juga terjadi peningkatan intensitas titik api. Sejauh ini kita sudah mengarahkan ada 10 unit heli yang terdiri dari 3 unit heli Bell, 1 unit Caravan yang bisa berfungsi patroli maupun OMC, selanjutnya 6 unit water bombing, ya," ujarnya.

BNPB juga menyiapkan dua base satgas udara di Kalteng dan perlengkapan akses ke lokasi yang hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak, termasuk lima unit motor trail.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bnpb Kalbar Kalsel Kalteng karhutla
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author