BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Digital Melalui Aplikasi JKN dan Pandawa

Share

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus memperkuat transformasi digital dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi layanan bagi masyarakat di seluruh Indonesia pada akhir Mei 2026.

Asisten Deputi Bidang SDM Umum dan Komunikasi BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah XI Bali NTT NTB, Made Sukmayanti menjelaskan di Denpasar pada Jumat (29/5/2026) bahwa peserta kini dapat memanfaatkan layanan tanpa tatap muka. Inovasi ini dihadirkan untuk memberikan kepastian jaminan serta kemudahan administrasi.

"Hal simpel, contohnya adalah mengecek status kepesertaan, Peserta JKN tidak perlu susah-susah datang ke kantor, pada era teknologi yang sudah maju ini kita cukup menggunakan HP saja, kami telah sediakan aplikasi Mobile JKN sejak lama yang bisa didownload via Play/App Store atau bisa lewat WA melalui Pandawa di nomor 08118 165 165," ungkap Sukmayanti.

Layanan digital ini mengintegrasikan berbagai fitur penting seperti informasi program, telehealth, hingga penambahan anggota. Penggunaan platform berbasis WhatsApp seperti Pandawa juga dihadirkan sebagai alternatif yang lebih sederhana bagi masyarakat luas.

"Jika semua Peserta JKN dapat memanfaatkan apalikasi tersebut maka banyak keuntungan yang bisa didapat peserta, sebagai contoh pada aplikasi Mobile JKN ada fitur info program JKN, Telehealth, info riwayat pelayanan, Rehab untuk mencicil tunggakan iuran, penambahan peserta, info peserta, lokasi faskes, perubahan data, pengaduan, info iuran, skrining riwayat kesehatan, antrian online dan banyak lagi info lainnya," lanjut Sukmayanti.

Kedua platform digital ini menyasar seluruh segmen usia guna mempermudah akses tanpa perlu mengantre secara fisik di kantor cabang. Optimalisasi sosialisasi terus dilakukan bersama media agar jangkauan informasi merata.

"Saat ini WA sudah lumrah digunakan oleh berbagai usia, sehingga bagi yang kesulitan menginstal Mobile JKN bisa memanfaatkan Pandawa yang fiturnya lebih sederhana tapi sama-sama lengkap untuk administrasi layanan, sekali lagi kami harap informasi ini dapat sampai kepada semua masyarakat atas bantuan dari media," tutup Sukmayanti.

Dilansir dari laman BPJS Kesehatan, salah satu fitur unggulan yang mempermudah pasien di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas adalah pendaftaran antrean secara online. Sistem ini memangkas waktu tunggu pasien secara signifikan dengan integrasi jadwal praktik dokter yang diperbarui secara real-time.

Peningkatan teknologi ini berjalan beriringan dengan perluasan kepesertaan JKN yang mencakup hampir seluruh penduduk. Direktur Informasi dan Teknologi BPJS Kesehatan Setiaji memaparkan cakupan kepesertaan yang kini telah menyentuh lebih dari 285 juta jiwa atau di atas 98 persen dari total populasi.

"Melalui dasbor digital, BPJS Kesehatan dapat memantau transaksi pelayanan Program JKN secara real-time untuk memastikan layanan berjalan optimal, akuntabel, dan tepat sasaran," ujar Setiaji dalam siaran pers, Rabu (27/5/2026).

Data dari dasbor tersebut dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi kecurangan serta menganalisis pola penyakit di masyarakat. Langkah preventif dan promotif diperkuat demi menjaga keberlanjutan pembiayaan program jaminan kesehatan nasional.

"Melalui integrasi data, BPJS Kesehatan dapat melakukan pemantauan layanan, deteksi potensi fraud, hingga analisis pola penyakit secara lebih cepat dan akurat," kata Setiaji.

Kolaborasi internasional juga diperkuat melalui kunjungan delegasi Asia eHealth Information Network (AeHIN) ke kantor BPJS Kesehatan di Jakarta pada Selasa (26/5/2026). Pertemuan tersebut menjadi ajang berbagi praktik baik dalam pengembangan ekosistem kesehatan digital regional.

"Melalui kunjungan ini, BPJS Kesehatan tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan kerja sama antarnegara dalam pengembangan sistem kesehatan digital," ujarnya.

Pengembangan sistem kesehatan masa depan akan terus diarahkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Langkah ini diambil guna memperkuat interoperabilitas data layanan kesehatan bersama Kementerian Kesehatan.

Apresiasi terhadap kemajuan ini datang dari Direktur Asia eHealth Information Network Alvin Marcelo yang menilai tata kelola teknologi informasi di BPJS Kesehatan berkembang sangat pesat sejak kunjungan pertama mereka pada 2014 silam.

"Kami sangat terkesan dengan perkembangan teknologi informasi di BPJS Kesehatan. Pengelolaan dasbor dapat berjalan efektif dengan dukungan sumber daya yang kompeten dan berdedikasi," ujar Alvin.

Tantangan kesehatan di kawasan Asia Pasifik, khususnya mengenai lonjakan penyakit tidak menular, menjadi fokus utama kerja sama ke depan. Platform seperti AeHIN diharapkan mampu menjadi motor penggerak kolaborasi penekanan angka kematian akibat penyakit kronis.

"Kami melihat kesamaan tantangan di berbagai negara Asia terkait penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, sehingga sinergi pencegahan menjadi sangat krusial," tutur Alvin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author