Brighton Pagari Yasin Ayari Usai Jadi Incaran Liverpool dan Chelsea
Klub Liga Inggris Brighton & Hove Albion resmi membuka pembicaraan perpanjangan kontrak dengan gelandang muda Yasin Ayari guna memagari aset mereka dari kejaran Liverpool dan Chelsea. Langkah ini diambil manajemen setelah performa memukau pemain berusia 22 tahun tersebut bersama Tim Nasional Swedia di Piala Dunia 2026.
Dilansir dari TeamTalk dan akses.co.id, nilai pasar mantan pemain AIK Stockholm ini melonjak hingga 35 juta euro menyusul penampilannya di Meksiko. Selain duo raksasa Inggris tersebut, Tottenham Hotspur, Newcastle United, Borussia Dortmund, dan RB Leipzig juga dilaporkan tengah memantau situasi Ayari.
Ayari mencatatkan 29 penampilan di Liga Inggris musim lalu dengan sumbangan tiga gol dan tiga assist di bawah manajer Fabian Hurzeler. Sebelum turnamen akbar itu bergulir, Brighton sempat menolak tawaran sebesar 20 juta poundsterling dari Nottingham Forest untuk sang gelandang serbaguna.
Ketertarikan klub-klub besar Eropa semakin menguat setelah Ayari mencetak dua gol saat Swedia melumat Tunisia 5-1 pada laga pembuka Grup F di Stadion BBVA, Monterrey. Pertandingan tersebut menghadirkan pergolakan emosional bagi Ayari mengingat sang ayah berasal dari Tunisia.
Seusai pertandingan di Monterrey, emosi tersebut diakui langsung oleh sang pemain kepada awak media.
"As everyone knows, my father is from there, I’ve spent many summers there, I have a lot of family there, but now I’m playing for Sweden and I have to do my best for Sweden," kata Yasin Ayari dilansir dari The New York Times.
Gelandang Brighton itu menambahkan bahwa laga melawan tanah kelahiran leluhurnya merupakan momen yang sangat tidak biasa.
"As everyone knows, I have roots there. It was a special match for me. I have a lot of family there, but now I’m playing for Sweden and I have to do my best for Sweden," tutur Ayari.
Mengenai selebrasi gol keduanya yang lebih emosional dibandingkan gol pertama, ia memberikan penjelasan tambahan.
"That was the nail in the coffin, then I could let loose a little. It is not every day that you score two goals in a World Cup," ujar Ayari.
Di sisi lain, mantan pemain timnas Tunisia Houssem Haj Ali menyayangkan keputusan federasi yang gagal meyakinkan talenta berbakat seperti Ayari.
"Of course, it is a great bitterness… The situation could have been the opposite if Yasin had worn the Tunisia jersey," kata Houssem Haj Ali kepada AFP.
Haj Ali mendesak agar otoritas sepak bola Tunisia segera membenahi sistem perekrutan pemain keturunan di luar negeri.
"We must create the conditions that allow players of Tunisian origin to represent their country," tutur Haj Ali.
Ia juga menyamakan kasus ini dengan kehilangan pemain muda bertalenta lainnya yang berkompetisi di Jerman.
"In the same way that we lost Louey Ben Farhat… who declined a national team call-up despite playing two friendly matches against Haiti and Canada, we also lost Ayari," tambah Haj Ali.
Ia menegaskan pentingnya mempertahankan setiap pemain potensial yang muncul demi mendongkrak prestasi tim nasional di panggung dunia.
"We do not have many global stars of Tunisian origin, which is why we must hold on to every player who emerges on the international stage," cetus Haj Ali.
Sementara itu, kepada stasiun penyiar Swedia SVT, Ayari mengungkapkan rasa bahagianya setelah membantu Swedia mencatatkan start terbaik sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
"I'm used to scoring beautiful goals, but scoring two goals in the same match, especially in my first World Cup appearance against Tunisia, was exceptional for me," pungkas Ayari.