BRIN Jelaskan Pentingnya Publikasi Ilmiah untuk Dorong Riset Berdampak

Share

Isu mengenai riset berdampak kini tengah menjadi perhatian serius dari berbagai pihak dan pengambil kebijakan. Dilansir dari Detikcom, pendirian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta program Kemendiktisainstek sengaja diarahkan untuk mewujudkan hasil riset yang berdampak nyata. Seruan serupa juga disampaikan oleh Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, dalam Forum KONEKSI pada 28 April 2026.

Namun, upaya mendorong riset berdampak ini sering kali diiringi dengan pandangan yang keliru, yakni memosisikan publikasi ilmiah sebagai lawan dari dampak riset itu sendiri. Mekanisme publikasi dalam tradisi ilmiah bukan sekadar pemenuhan formalitas administratif belaka. Proses ini menjadi sarana krusial untuk memastikan bahwa suatu temuan riset memang layak dipercaya oleh publik.

Sebuah riset harus melewati sistem telaah sejawat yang ketat, anonim, dan independen sebelum akhirnya diterbitkan. Telaah sejawat berfungsi menguji validitas metode, konsistensi argumen, serta ketepatan kesimpulan agar masyarakat terlindungi dari klaim sepihak yang tidak berdasar.

Praktik kontrol kualitas ini telah berjalan sejak abad ke-17 melalui penerbitan jurnal Philosophical Transactions oleh Royal Society of London pada 1665. Oleh karena itu, publikasi ilmiah merupakan standar mutu global yang menjaga kredibilitas pengetahuan.

Belajar dari Kasus Inggris dan Indonesia

Pentingnya validasi ilmiah terlihat saat mendiang Stephen Hawking memprotes kebijakan layanan kesehatan akhir pekan di Inggris pada 2016. Kebijakan tersebut dikritik karena didasarkan pada klaim yang minim dukungan studi tervalidasi, sehingga memicu ketidakpercayaan publik.

Kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia terkait klaim penemuan energi alternatif berupa "blue energy". Tanpa adanya proses publikasi dan validasi dari komunitas ilmiah, klaim tersebut pada akhirnya terbukti tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Dua peristiwa tersebut membuktikan bahwa publikasi ilmiah merupakan prasyarat mutlak bagi lahirnya riset yang kredibel. Tanpa pengujian yang ketat, hasil riset justru berisiko menjadi sumber misinformasi di tengah masyarakat.

Pemicu Dampak dan Daya Saing Global

Selain sebagai validasi, publikasi ilmiah berfungsi sebagai sarana diseminasi agar hasil penelitian dapat diakses luas oleh pembuat kebijakan. Riset yang tidak dipublikasikan secara terbuka pada dasarnya tidak akan hadir dalam ruang pengetahuan publik.

Proses penyaringan yang ketat ini juga menjadi jalan bagi para ilmuwan dunia untuk meraih penghargaan tertinggi seperti Nobel. Kualitas yang tersaring lewat publikasi ilmiah memastikan bahwa hasil riset tersebut memiliki dampak yang signifikan.

Dalam skala nasional, publikasi ilmiah diakui sebagai indikator penting dalam pembangunan. Laporan IMD World Competitiveness Booklet 2025 bahkan memasukkan publikasi ilmiah sebagai salah satu komponen untuk mengukur daya Saing suatu negara.

Akar Masalah pada Konsumsi Pengetahuan

Persoalan mengenai riset yang tidak berdampak sebenarnya tidak bisa hanya diarahkan kepada pihak periset semata. Dampak kebijakan publik selalu melibatkan dua sisi, yaitu periset sebagai produsen pengetahuan dan pemerintah sebagai pengguna. Tanggung jawab periset adalah menjaga integritas dan menjauhi praktik jurnal predator yang merusak kualitas riset. Namun, tantangan terbesar sering kali berada pada sisi pengambil kebijakan yang belum konsisten menerapkan kebijakan berbasis bukti.

Dalam beberapa kasus, bukti ilmiah sering kali diperlakukan secara selektif atau hanya digunakan untuk melegitimasi keputusan yang sudah diambil. Bias politik di negara berkembang sangat memengaruhi konsistensi penggunaan bukti ilmiah tersebut. Kritik yang hanya menyudutkan orientasi publikasi periset justru mengaburkan akar masalah yang sebenarnya. Persoalan mendasar riset di Indonesia bukan terletak pada proses produksi pengetahuan, melainkan pada rendahnya komitmen konsumsi pengetahuan oleh pembuat kebijakan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author