BRIN Pastikan Indonesia Bebas Ancaman Godzilla El Nino 2026

Share

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan wilayah Indonesia tidak menghadapi ancaman fenomena iklim ekstrem Godzilla El Nino pada tahun 2026. Kepastian tersebut dilansir dari Detik iNET berdasarkan hasil analisis berbagai model iklim dunia yang menunjukkan kondisi cuaca global saat ini.

Kondisi atmosfer saat ini lebih mengarah pada El Nino kategori moderat dengan peluang kemunculan sekitar 27 persen. Kendati peluang terjadinya fenomena ekstrem sangat kecil, masyarakat serta pemerintah tetap diminta waspada terhadap potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, memberikan penjelasan mengenai rincian perkembangan kondisi iklim tersebut kepada publik.

"El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis," jelas Albertus dikutip Senin (22/6/2026).

Fenomena ini dipicu oleh pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengganggu pola pembentukan awan hujan. Akibat pergeseran pusat pembentukan awan ke arah Pasifik Tengah, curah hujan di Indonesia mengalami pengurangan yang cukup signifikan.

"Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen," jelasnya.

Puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan jatuh pada Agustus, dengan wilayah Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung berpotensi mengalami kondisi sangat kering. Kecilnya peluang Godzilla El Nino disebabkan oleh kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase netral serta minimnya energi lautan setelah fase El Nino kuat periode 2023-2024.

"Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah," tegasnya.

BRIN mendeteksi adanya sinyal peningkatan risiko El Nino ekstrem melalui analisis stokastik Persamaan Fokker-Planck untuk periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028 dengan peluang mendekati 40 persen. Sebagai langkah antisipasi, berbagai teknologi mitigasi berbasis riset telah disiapkan oleh lembaga tersebut.

"Teknologi tersebut mencakup sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak yang dapat menjadi alternatif produksi pangan saat lahan pertanian konvensional mengalami kekurangan air," ungkapnya.

Sistem pemantauan lahan gambut real-time via platform Ina-Carbon dan drone pemadam kebakaran disiapkan untuk mencegah kebakaran hutan. Sektor pangan juga diperkuat dengan sistem irigasi hemat air serta pemanfaatan lahan suboptimal untuk mencegah risiko gagal panen.

"Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat pengelolaan sumber daya air, mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan, serta memastikan ketahanan pangan tetap terjaga. Dengan mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampak El Niño dapat tekanan seminimal mungkin," pungkas Albertus.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author