BRIN Ungkap Baru 20 Tanpa Obat Dimanfaatkan dari Ribuan Spesies
Pemanfaatan kekayaan alam Indonesia untuk sektor kesehatan dinilai masih belum optimal. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria, mengungkapkan bahwa baru 20 jenis tanaman obat yang sejauh ini diolah untuk kebutuhan meja medis.
Padahal, potensi tanaman obat yang dimiliki negara ini mencapai ribuan jenis. Berdasarkan data yang dihimpun, Indonesia mempunyai sekitar 30.000 spesies flora, dengan rincian 12.000 spesies berada di Pulau Jawa serta 18.000 spesies tersebar di Papua dan Kalimantan.
Dari total puluhan ribu flora tersebut, sebanyak 9.600 spesies di antaranya teridentifikasi memiliki potensi besar sebagai tanaman obat. Angka pemanfaatan yang minim ini disampaikan langsung dalam acara BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species Chapter Flora di Auditorium BRIN, Jakarta, seperti dilansir dari Detikcom pada Senin (25/5/2026).
"Jadi pasti banyak PR dari kita untuk mengandalkan bidang kesehatan agar bisa terus memanfaatkan sumber daya lokal yang kita miliki," ujar Arif.
Arif menjelaskan bahwa masyarakat di berbagai daerah sebenarnya sudah lama mengandalkan tanaman herbal secara turun-temurun. Salah satu contohnya adalah tradisi di Sumatera Utara yang memanfaatkan daun bangun-bangun untuk dikonsumsi ibu pascamelahirkan demi memperlancar ASI, yang kini telah terbukti secara klinis.
"Saya kira banyak sekali, banyak sekali di berbagai belahan Nusantara praktek-praktek seperti itu yang membutuhkan sains hadir untuk membuktikan, untuk bisa memperkuat apa-apa yang selama ini sudah dilakukan oleh masyarakat," ujar Arif.
Upaya pencatatan kekayaan hayati terus menunjukkan perkembangan. Sejak tahun 1967 hingga 2025, lembaga riset nasional ini telah mengidentifikasi 1.583 spesies baru, di mana 712 di antaranya merupakan kelompok flora.
Tren positif ini berlanjut dalam periode tahun 2025 hingga awal tahun 2026. Para peneliti tercatat berhasil mendokumentasikan 29 jenis flora baru yang menambah daftar keanekaragaman hayati tanah air.
Spesies yang baru ditemukan tersebut mencakup berbagai kelompok tumbuhan penanda keunikan hutan tropis. Beberapa di antaranya meliputi genus Rafflesia, Begonia, Homalomena, Rhododendron, Nepenthes, hingga famili anggrek (Orchidaceae) dari bermacam pelosok daerah.
Langkah penemuan ini tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan lewat rangkaian kerja ilmiah terstruktur. Eksplorasi dimulai dari ekspedisi hutan pedalaman, pengumpulan sampel spesimen, analisis morfologi serta molekuler, hingga penulisan publikasi pada jurnal internasional.
"Penemuan spesies baru tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan dedikasi para peneliti, kerja lapangan yang berat, serta dukungan riset yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas sains taksonomi dan eksplorasi biodiversitas harus menjadi perhatian bersama," jelasnya.
Di sisi lain, kelestarian keanekaragaman hayati saat ini menghadapi tekanan yang kian berat. Faktor pengubah fungsi lahan, krisis iklim global, hingga ancaman spesies invasif menjadi tantangan nyata dalam kerja konservasi.
Dampak dari dinamika lingkungan ini cukup mengkhawatirkan karena berisiko memicu kepunahan tanaman tertentu sebelum sempat diteliti. Oleh sebab itu, program riset keanekaragaman hayati dinilai perlu masuk ke dalam fokus prioritas pemerintah.
"Karena itu, riset biodiversitas harus menjadi bagian dari agenda strategis nasional. Kita tidak hanya berbicara tentang conservation tumbuhan, tetapi juga tentang menjaga sumber pengetahuan, ketahanan ekosistem, dan masa depan generasi mendatang," tegasnya.