BRIN Ungkap Insting Satwa Liar Melindungi Diri dari Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang bergantung pada insting alami untuk melarikan diri, sebagaimana disampaikan Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Gono Semiadi di Jakarta Pusat pada Selasa (25/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Gono menjelaskan bahwa setiap hewan memiliki insting untuk mendeteksi bahaya saat api mulai mendatangi habitat mereka, meski tingkat kemampuan bertahan hidup tersebut sangat bervariasi.
"Hewan itu punya insting, ketika sudah mulai datangnya kebakaran, punya insting," ungkap Gono usai menghadiri acara Sarwono Awards di Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin.
Kemampuan merespons ancaman kebakaran ini sangat dipengaruhi oleh ukuran tubuh serta tingkatan strata fisik dari masing-masing spesies satwa liar.
"Tapi kita kalau bicara hewan itu kan harus bisa melihat stratanya. Ada hewan besar, ada hewan yang kecil, ada hewan yang lebih berbeda," jelasnya.
Ketika skala kebakaran membesar secara masif, satwa sering kali mengalami kebingungan karena kehilangan ruang dan jalur pelarian di kawasan jelajah mereka.
"Kalaupun dia mempunyai insting untuk melarikan diri, tetapi kan (kebakarannya) masif, itu kan akhirnya tidak ada lagi (jalan untuk melarikan diri), kemana saya harus lari. Itu yang menjadi masalahnya. Satwa-satwa yang daerah home range jelajahnya kecil, terbiasanya larinya juga mungkin sedikit (kesulitan melarikan diri).Nah ini semuanya itu menjadi tantangan," bebernya.
Pakar konservasi Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD menambahkan bahwa bencana karhutla menjadi ancaman paling serius bagi keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya bagi spesies seperti orang utan.
"Sangat besar sekali (ancaman karhutla bagi keanekaragaman hayati RI). Ini karena apa? Karena hasil penelitian banyak ya bahwa orang utan semuanya ada di kanopi, di pohon-pohon itu kan nggak bisa kemana-mana, dia larinya ke mana lagi," jelas Jatna.
Ketergantungan orang utan pada struktur pohon tinggi mensyaratkan adanya dahan yang saling terhubung agar mereka dapat berpindah tempat dengan aman saat terjadi bahaya.
"Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi, yang saling ada punya connectivity di antara dahannya. Sekarang harus kita lihat, apakah connectivity antar dahan di percabangan, di puncak sana itu ada atau tidak," katanya.
Kerusakan pada bentang kanopi hutan akibat kebakaran secara langsung menghancurkan kawasan yang menjadi tempat tinggal utama populasi orang utan.
"Kalau tidak ada, biar kata disitu ada 100 tegakan atau pohon tapi tidak ada connectivitas, berarti habitat dari orang utan-nya ya sudah hilang," sambung pakar di bidang satwa liar itu.
Pergerakan satwa melintasi bentang alam juga dikonfirmasi oleh Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, yang menyebut satwa berpindah berdasarkan kondisi jalur jelajah serta ketersediaan makanan.
"Satwa bisa berpindah dan satwa akan menggunakan insting. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman," kata Paulinus.
Ia menekankan bahwa satwa liar dapat bergerak menembus batas administratif negara, termasuk menyeberang ke wilayah Malaysia jika bentang hutan masih terhubung utuh.
"Tentu iya (memungkinkan pindah), karena satwa tidak mengenal batas negara. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman," paparnya.