Kinerja Bumi Resources Minerals Tertekan, Produksi Jadi Fokus Pemulihan
Kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami tekanan pada semester I tahun 2026 akibat penurunan produksi dan pendapatan. Pemulihan produksi diperkirakan menjadi faktor utama dalam memperbaiki kinerja perusahaan hingga akhir tahun ini.
Pendapatan BRMS semester I 2026 tercatat sebesar US$ 95,79 juta, turun 20,7 persen secara year-on-year (yoy). Penurunan ini menyebabkan laba bersih BRMS menyusut hingga 43,75 persen menjadi US$ 12,92 juta, menurut insight.kontan.co.id.
Kinerja anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tersebut diproyeksikan membaik seiring dengan pemulihan volume produksi tambang emas. BRMS juga menyelesaikan akuisisi 3,03 persen saham PT Citra Palu Minerals (CPM) dari BUMI senilai USD 9,2 juta pada 25 Juni 2026, sehingga menguasai 100 persen saham CPM.
Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak 6,32 persen ke level Rp202 pada perdagangan Jumat (21/8/2026) pukul 10.36 WIB, terdorong aksi beli bersih investor asing sebesar Rp273 miliar di pasar reguler, dilansir dari achmadnurhidayat.id.
Volume transaksi saham BUMI mencapai 3,67 miliar lembar dengan nilai total Rp718 miliar pada sesi pertama perdagangan tersebut. Lonjakan ini melanjutkan tren positif dari perdagangan Kamis (20/8/2026) yang mencatat kenaikan harga saham sebesar 4,40 persen.
Kepastian posisi BUMI dalam MSCI Global Small Cap Index Indonesia periode Agustus 2026 memberikan sentimen positif, karena saham BUMI dipastikan tetap menjadi konstituen indeks global tersebut.
Analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan saham BUMI berpotensi melanjutkan penguatan ke kisaran harga Rp196 hingga Rp204 jika mampu menembus level Rp190.
BUMI jika mampu breakout 190, saham berpotensi melanjutkan penguatan menuju 196-204, ujar analis BRI Danareksa Sekuritas.
Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan kinerja keuangan BUMI meningkat pada kuartal III-2026, didukung oleh pemulihan laba anak usaha BRMS, peningkatan produksi emas Wolfram, dan potensi penurunan biaya tunai akibat melandainya harga bahan bakar.
Selain bisnis emas, prospek batu bara BUMI mendapat katalis dari potensi kenaikan harga akibat El Nino, sementara volume produksi relatif terlindungi melalui penggunaan conveyor belt, tulis Samuel Sekuritas dalam proyeksinya.
Kinerja operasional BUMI mulai menguat sejak kuartal II-2026 dengan pendapatan mencapai US$ 449 juta, naik 7,5 persen secara kuartalan dan 36,4 persen secara tahunan. Kenaikan ini didukung peningkatan volume penjualan batu bara Arutmin sebesar 29,6 persen yoy.
Secara kumulatif, BUMI mencatat pendapatan US$ 867 juta pada semester I-2026, meningkat 27,9 persen yoy, dan laba bersih sebesar US$ 59 juta, sesuai estimasi konsensus pasar.