Bursa Saham Asia Menguat Dipicu Kesepakatan Damai AS dan Iran

Share

Bursa saham di kawasan Asia mencatat penguatan bermakna pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Sentimen positif ini muncul setelah adanya kesepakatan penting antara Amerika Serikat dan Iran terkait peta jalan menuju perdamaian final.

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, kesepakatan tersebut ditargetkan rampung dalam waktu 60 hari. Perundingan tingkat tinggi antara kedua negara dijadwalkan akan terus berlangsung hingga akhir pekan ini.

Sektor teknologi menjadi motor utama pergerakan pasar, yang berhasil mendorong indeks MSCI Asia Pasifik melonjak lebih dari 1%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pasar komoditas yang mengalami penyesuaian.

Minyak mentah jenis Brent jatuh sebesar 1,5% hingga diperdagangkan di bawah level US$80 per barel. Padahal, komoditas energi ini sempat melonjak lebih dari 2% pada awal sesi perdagangan.

Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat berhasil memperkecil pelemahan awal mereka. Pergerakan positif juga terlihat pada komoditas emas yang melonjak, sementara obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami koreksi setelah libur nasional.

Kemajuan ini dikonfirmasi oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah, Baghaei menyatakan bahwa kedua belah pihak mencapai kemajuan yang baik terkait izin ekspor minyak.

Selain masalah ekspor minyak Teheran, perundingan tersebut juga membahas pencairan aset-aset Iran yang sempat dibekukan. Sesi pertama dialog tingkat tinggi ini telah resmi berakhir di Swiss berdasarkan pernyataan bersama Qatar dan Pakistan.

Perkembangan ini membawa kejelasan bagi pelaku pasar yang sempat mengalami kebingungan pada hari Minggu. Sebelumnya, media lokal mengabarkan bahwa Iran menghentikan perundingan akibat ancaman serangan militer dari Presiden AS Donald Trump.

Ancaman tersebut dilontarkan Trump sekiranya kelompok Hizbullah terus melakukan gempuran ke wilayah Israel. Namun, situasi tersebut berhasil diredam oleh perkembangan positif di meja perundingan terbaru.

"Pasar melihat kesepakatan Iran ini masih rapuh, tetapi belum cukup rapuh untuk memicu penilaian ulang secara agresif terhadap risiko geopolitik pada tahap ini," kata Dilin Wu, analis strategi dari Pepperstone Group, dalam wawancara dengan Bloomberg Television.

Pasar saham di Taiwan dan Korea Selatan memimpin penguatan di Asia karena didominasi oleh sektor teknologi. Indeks subsektor teknologi di kawasan ini bahkan melonjak hampir 3%.

Saham perusahaan di bawah naungan LG Group memimpin penguatan di Seoul. Kenaikan ini dipicu oleh rencana kunjungan para eksekutif perusahaan ke kantor pusat Nvidia untuk membahas kerja sama kecerdasan buatan fisik dan robotika.

Saham LG Electronics Inc. tercatat melonjak lebih dari 12% akibat kabar tersebut. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat untuk tenor 10 tahun juga merangkak naik.

Pelaku pasar obligasi kini sedang menantikan rilis data belanja konsumen Amerika Serikat pekan ini. Data tersebut penting untuk melihat apakah sikap pasar yang semakin hawkish memiliki landasan kuat.

Indeks dolar Amerika Serikat juga terpantau naik 0,1%, melanjutkan tren penguatan dari pekan sebelumnya. Sementara itu, mata uang pound sterling melemah akibat spekulasi masa depan politik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Pada penutupan pergerakan pasar, indeks Topix Jepang naik 1,2% dan indeks Shanghai Composite naik 0,2%. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong justru mengalami penurunan sebesar 1,8%.

Di pasar mata uang, yen Jepang melemah 0,1% menjadi 161,49 per dolar AS, sementara yuan offshore menguat ke 6,7741. Untuk aset kripto, Bitcoin naik 1,1% ke level US$64.473,84.

Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun juga naik menjadi 2,660%. Sementara dari sektor komoditas dunia, minyak West Texas Intermediate turun ke US$75,53 per barel dan emas spot naik ke US$4.197,76 per ons.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author