Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Kaca Kepada Paus Leo XIV

Share

Budayawan sekaligus pendiri Teater Gandrik, Butet Kartaredjasa, menyerahkan sebuah lukisan kaca berjudul 'Jalan Salib Punakawan' kepada Pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV di Vatikan. Penyerahan karya seni tersebut menjadi sorotan nasional dan diakui sebagai bentuk tafsir kultural global berbasis tradisi Jawa, seperti dilansir dari Detikcom.

Pembuatan lukisan tersebut telah berlangsung sejak akhir tahun 2024. Butet mengungkapkan bahwa inisiatif pengerjaan karya seni ini murni didorong oleh rasa syukur personal yang mendalam setelah dirinya berhasil sembuh dari menderita sakit.

Tafsir kultural lewat media lukisan kaca tersebut mendapat respons positif dari pihak kepausan. Pihak Vatikan menyambut baik inisiatif yang memadukan unsur budaya lokal Jawa dengan narasi spiritual religius tersebut.

"Ditafsir secara Jawa pakai cara lukisan kaca, itu kan tafsir kultural. jadi lintas kultural dan Paus senang ada orang Jawa yang punya inisiatif itu," kata Butet Kartaredjasa.

Proses pengerjaan lukisan ini diselesaikan dalam waktu beberapa minggu. Momentum kesembuhan dari sakit dinilai Butet sebagai sebuah keajaiban spiritual yang menggerakkan dirinya untuk berkarya.

"Pengerjaan beberapa minggu di akhir tahun 2024. Itu pun setelah saya sakit itu loh. Saya sembuh dari sakit itu kan saya merasa diberi mukjizat," ujar Butet Kartaredjasa.

Karya ini juga diakui menjadi bagian dari perjalanan batin personalnya. Melalui lukisan tersebut, Butet merasa sedang menunaikan sebuah tugas spiritual terlepas dari latar belakang religiusitas pribadinya.

"Nah, saya sing agamane ra cetho iki ingin mewujudkan opo iki (saya yang beragama tidak jelas ini ingin mewujudkan apa), terjemahannya ya. Ternyata aku menerima tugas secara spiritual yang itu, ngono (gitu) lho. Ini lebih ke proses spiritualism untuk diriku," lanjut Butet Kartaredjasa.

Gagasan visual mengenai tokoh Punakawan sengaja dipilih untuk menyosialisasikan nilai-nilai tradisi Jawa. Karakter tradisional ini digunakan sebagai jembatan kultural untuk menggambarkan narasi perjuangan kemanusiaan Yesus.

"Nah, saya membayangkan kalau sosialisasi nilai kenapa tidak menggunakan idiom Punakawan yang ada di dalam tradisi Jawa itu. Maka saya tafsir, saya wujudkan, supaya sosialisasi religiusitas itu, spiritualism tentang perjuangan kemanusiaan seorang Yesus itu bisa terekam di dalam lukisan," ucap Butet Kartaredjasa.

Pertemuan di Vatikan tersebut turut didampingi oleh sang istri, Rulyani Isfihana atau Bu Ageng. Seniman asal Yogyakarta ini pun menyampaikan harapannya agar karya seni rupa tersebut dapat ditempatkan di dalam kawasan suci Vatikan.

"Mudah-mudahan," tukas Butet Kartaredjasa mengenai harapan agar lukisannya bisa dipajang di Basilika Santo Petrus.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author