Ciri Anak Alami Tekanan Teman Sebaya dan Cara Mengatasinya

Share

Anak-anak yang menghadapi tekanan sosial di sekolah kerap memilih untuk tidak menceritakan masalah tersebut saat berada di rumah. Pengaruh dari kelompok sosial atau teman sebaya ini berpotensi memicu penyesuaian diri secara paksa demi mendapatkan pengakuan lingkungan.

Pengaruh lingkungan pertemanan tidak selalu membawa dampak buruk menurut informasi yang dilansir dari HaiBunda. Dorongan teman sebaya juga bisa memicu perilaku positif, seperti memotivasi pencapaian nilai akademik yang baik atau keterlibatan aktif dalam kegiatan masyarakat.

Peran orang tua dalam menanamkan nilai moral secara perlahan akan tergeser oleh pandangan teman sebaya seiring bertambahnya usia anak. Kondisi ini membuat anak rentan merasa kewalahan akibat tuntutan sekolah dan keinginan untuk diterima lingkungan sosial.

"Anak usia remaja menghadapi begitu banyak hal dalam kehidupannya. Mulai dari tuntutan sekolah, aturan dari orang tua, keinginan untuk diterima dalam lingkungan sosial, dan pengaruh teman sebaya. Mereka pun rentan merasa kewalahan," kata konselor Stacie Goran, LPC, LCDC, dikutip dari Children's Health.

Stacie Goran menambahkan bahwa remaja perlu membangun identitas diri yang kuat serta memegang teguh nilai pribadi agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan. Perubahan ini bisa memengaruhi berbagai spektrum kehidupan anak, mulai dari capaian akademis hingga stabilitas kesehatan mental.

Bentuk tekanan dari pertemanan dapat muncul secara terselubung maupun terbuka. Pemahaman terhadap perubahan sikap anak menjadi kunci utama bagi orang tua untuk memberikan bantuan yang tepat sasaran.

Anak yang sedang mengalami tekanan pertemanan umumnya menunjukkan beberapa perubahan perilaku sebagai berikut:

Enggan menghadiri kegiatan di sekolah atau pertemuan sosial karena timbulnya rasa cemas, takut ditolak, atau enggan menuruti kemauan kelompok.

Perhatian yang berlebihan terhadap penilaian orang lain, terutama mengenai penampilan fisik, gaya rambut, hingga pilihan pakaian.

Perubahan drastis pada kepribadian, seperti anak yang biasanya riang mendadak menjadi pendiam, tertutup, atau mudah marah demi menyesuaikan diri.

Pengakuan secara langsung mengenai perasaan tidak diterima, merasa berbeda dari yang lain, atau tidak memiliki teman bermain.

Munculnya indikasi stres berlanjut, seperti sering terlihat murung, cemas, kehilangan minat pada hobi, hingga menangis tanpa alasan jelas.

Kebiasaan membandingkan kapasitas diri, kepemilikan barang, hingga prestasi akademik dengan orang lain yang membuat mereka merasa rendah diri.

Gangguan pola tidur di rumah, sering terbangun saat malam hari, serta tampak kelelahan sepanjang hari akibat beban pikiran.

Bentuk Tekanan Teman Sebaya di Lingkungan Sekolah

Keinginan kuat untuk diterima membuat anak sangat peka terhadap ejekan, celaan, atau tindakan pengucilan. Hal ini mendorong mereka bersedia menuruti permintaan kelompok sosialnya.

Tekanan positif terjadi ketika pertemanan saling mengarahkan pada tindakan yang membangun. Contohnya adalah dorongan untuk belajar lebih giat, ajakan menabung untuk membeli kebutuhan belajar, penolakan terhadap gosip, hingga pencegahan perilaku merokok.

Sebaliknya, tekanan negatif mengarahkan anak pada tindakan berbahaya yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bentuknya meliputi ajakan membolos, dorongan melakukan perundungan, pemaksaan mengonsumsi minuman beralkohol, hingga bujukan mencoba obat terlarang.

Dampak tekanan sosial juga dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Remaja laki-laki tercatat lebih rentan terpengaruh pada tindakan berisiko tinggi, sedangkan remaja perempuan lebih sering menghadapi tekanan terkait standar penampilan fisik.

Langkah Orang Tua Pendampingi Anak

Orang tua perlu menyiapkan strategi pendampingan sebelum anak terjebak dalam situasi pertemanan yang tidak sehat. Diskusi terbuka mengenai potensi skenario tekanan pertemanan beserta solusi menghadapinya menjadi langkah awal yang krusial.

Orang tua dapat menyepakati kode pesan khusus bersama anak untuk situasi darurat. Kode tersebut menjadi tanda bagi orang tua untuk segera menelepon dan memberi alasan agar anak dapat menyelesaikannya tanpa merasa tertekan.

Pelekatan nilai pribadi juga dapat dibantu dengan mengarahkan anak untuk menjalin hubungan pertemanan dengan individu yang memiliki prinsip sejalan. Selain itu, mengenalkan sosok dewasa terpercaya di sekolah, seperti guru bimbingan, dapat menjadi jalur bantuan saat anak membutuhkan pertolongan profesional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author