Colossal Biosciences Berhasil Menetaskan Anak Ayam dari Telur Buatan
Proses penetasan alami anak ayam kini memiliki alternatif baru melalui inovasi teknologi.
Dikutip dari Detik Food, perusahaan de-ekstensi bernama Colossal Biosciences mengumumkan keberhasilan mereka dalam menetaskan anak ayam menggunakan telur cetak 3D inovatif.
Perusahaan yang berbasis di Dallas, Amerika Serikat tersebut mengklaim telah mengembangkan struktur telur artifisial secara menyeluruh.
Teknologi ini dirancang untuk menetaskan berbagai spesies burung, sehingga secara teoritis dapat menghidupkan kembali satwa yang telah punah sekaligus menyelamatkan spesies yang terancam punah.
Salah satu target utama dari Colossal Biosciences adalah menghidupkan kembali moa raksasa Pulau Selatan (Dinornis robustus), yaitu burung asal Selandia Baru dengan tinggi 3 meter yang punah pada abad ke-14.
Secara fisik, telur buatan ini menyerupai cangkir plastik biasa, namun memiliki struktur kisi hasil cetakan 3D yang memungkinkan embrio ayam tumbuh menjadi anak ayam hidup.
Bagian inti dari inovasi ini terletak pada membran silikon yang melapisi komponen dalam struktur kisi tersebut.
Membran khusus ini berfungsi mengalirkan oksigen dalam jumlah cukup ke bagian dalam, menyerupai karakteristik pada telur asli.
Dalam proses pengujian, para peneliti menuangkan isi telur biologis ke dalam wadah telur buatan tersebut secara hati-hati.
Sebuah jendela kecil kemudian dibuat pada bagian atas cangkang buatan agar tim peneliti dapat mengamati perkembangan di dalamnya.
Sistem rekayasa ini diklaim bersifat terukur serta memiliki akurasi tinggi secara biologis setelah berhasil menetaskan anak ayam.
Kendati demikian, upaya menghidupkan kembali burung moa masih menghadapi kendala besar.
Pihak perusahaan masih harus mendalami DNA burung punah dari sampel tulang tua, lalu melakukan ribuan modifikasi genetik ke dalam genom burung yang hidup saat ini.
Pengembangan wadah artifisial untuk menetaskan unggas sebenarnya bukan hal baru di dunia sains.
Ilmuwan Jepang pada tahun 1998 sempat mendokumentasikan keberhasilan menetaskan anak burung puyuh melalui media buatan.
Namun, metode terdahulu memerlukan bantuan suplementasi oksigen tambahan, yang memicu risiko cacat genetik atau kegagalan menetas pada anak burung.
Sebaliknya, membran silikon garapan Colossal Biosciences mampu melewatkan oksigen secara alami tanpa alat bantu.
"Langkah ini bisa sangat penting, bisa luar biasa," kata Paul Mozdziak, seorang ahli biologi sel punca di North Carolina State University di Raleigh, tentang telur buatan tersebut.
"Tanpa data, sangat sulit untuk menilai dampak sebenarnya," pungkas Mozdziak.
Sebelum tren wadah penetasan ini mencuat, korporasi Kewpie di Jepang juga pernah memproduksi inovasi telur mentah tiruan.
Produk alternatif bento praktis tersebut memerlukan waktu riset hingga 10 tahun sebelum akhirnya resmi diluncurkan.
Komoditas pangan buatan ini dapat mencair menjadi saus ketika dipanaskan, namun tetap dapat dikonsumsi langsung dalam kondisi dingin.
Formulasi kuning telur tiruan tersebut memanfaatkan campuran dekstrin, sirup glukosa, minyak sayur, gelatin, garam, agar, protein putih telur, trehalosa, polisakarida, asam amino, zat penyesuai PH, serta pewarna karotenoid.