CORE Indonesia Prediksi Badai PHK Ancam 20 Ribu Pekerja Kuartal II 2026

Share

Potensi pemutusan hubungan kerja atau PHK massal membayangi dunia usaha nasional pada kuartal II 2026. Center of Reform on Economics atau CORE Indonesia memproyeksikan adanya tambahan 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan, seperti dilansir dari Detik Finance.

Pembengkakan biaya impor bahan baku menjadi pemicu utama meningkatnya tekanan terhadap sektor industri. Kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta kemacetan jalur distribusi global imbas konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sektor manufaktur tercatat menjadi lini bisnis yang paling rentan terhadap gelombang pengurangan karyawan ini. Analisis mendalam mengenai situasi ini tertuang dalam publikasi bertajuk 'Badai PHK (Belum) Berlalu' yang disusun oleh Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah.

"Akan ada potensi tambahan PHK sebanyak 15,3 – 20,3 ribu pekerja. PHK terbesar kemungkinan akan terjadi di sektor manufaktur dengan jumlah kurang lebih mencapai 8,7 – 12,1 ribu pekerja, sektor jasa 3,3 – 4,5 ribu pekerja, dan di sektor pertanian mencapai 3,3 – 3,6 ribu pekerja," tulis CORE dalam laporannya, dikutip Jumat (29/5/2026).

Proyeksi angka kehilangan pekerjaan tersebut dikalkulasikan menggunakan basis data Tabel Input-Output 2020 milik Badan Pusat Statistik atau BPS. Dalam pemodelannya, CORE memasukkan sejumlah variabel gangguan eksternal termasuk krisis logistik di Selat Hormuz.

"Kami menggunakan Tabel Input-Output tahun 2020 yang dirilis oleh BPS untuk mengestimasi potensi penurunan serapan tenaga kerja di tengah kenaikan biaya impor bahan baku yang tengah dihadapi oleh perusahaan manufaktur," jelas CORE.

"Dengan asumsi hambatan di Selat Hormuz masih akan terjadi dalam 2 – 3 bulan ke depan, perusahaan akan menghadapi kelangkaan bahan baku. Nilai tukar terus merosot melebihi Rp 17.400," sambungnya.

Dalam perhitungannya, CORE membagi dampak operasi bisnis ke dalam dua skenario utama. Skenario sedang memprediksi pemangkasan output pabrik sebesar 0,1% jika harga bahan baku melonjak di atas 1,5%.

Sementara itu, skenario terburuk memperlihatkan penurunan kapasitas produksi yang lebih dalam. Hal ini terjadi akibat tekanan ganda dari depresiasi nilai tukar mata uang yang menekan biaya operasional.

"Dalam skenario buruk, perusahaan yang menghadapi kenaikan harga input produksi akibat depresiasi nilai tukar sebesar 1,5% ke atas akan menghadapi pemangkasan output 0.15%, sementara perusahaan manufaktur dengan kenaikan harga input produksi di bawah 1,5%, outputnya diperkirakan akan terpangkas 0,01% sebagaimana skenario sedang," bebernya.

Lembaga riset ekonomi ini juga mengingatkan bahwa penciutan lapangan kerja formal berisiko mendorong perpindahan masif ke sektor informal. Hingga Februari 2026, porsi pekerja informal di Indonesia sudah mendominasi pasar tenaga kerja nasional.

"Implikasi adanya potensi tambahan jumlah PHK ini adalah naiknya jumlah angkatan kerja yang menganggur dan/atau naiknya tenaga kerja di sektor informal, yang per Februari 2026 sudah mencapai 87,74 juta jiwa, atau kurang lebih 59,42 persen dari total tenaga kerja aktif di Indonesia," terang publikasi tersebut.

Ketimpangan struktur ketenagakerjaan ini mencerminkan lemahnya daya tahan sektor formal dalam menyerap tenaga kerja baru saat diguncang sentimen global. Sepanjang periode 2021 hingga 2025, pertumbuhan penyerapan sektor formal mandek di angka 0,8%, kalah jauh dari sektor informal yang melesat 3,2%.

Tren penurunan ini semakin terlihat jelas dalam kurun waktu 2022-2026, di mana daya tampung pekerja formal hanya mencapai 73% dari total serapan sektor informal. Memasuki Februari 2026, kapasitas serapan untuk angkatan kerja baru bahkan anjlok drastis menjadi hanya 38 ribu orang saja.

Angka penyerapan kuartal awal tersebut menunjukkan kemerosotan hingga 86% jika dibandingkan dengan rata-rata historis periode 2012-2025 maupun 2010-2019. Ketidakpastian global dinilai menjadi pemicu, namun rapuhnya fundamental pasar kerja domestik menjadi masalah mendasar.

"Faktor eksternal memang menjadi pemantik utama, tetapi data ini juga menunjukkan pasar tenaga kerja di Indonesia telah rapuh sejak lebih dari satu dekade terakhir," tutup CORE.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author