Dampak Konsumsi Berlebihan Makanan Berbahan Tepung terhadap Tubuh

Share

Makanan berbahan tepung seperti gorengan, bakwan, dan jajanan kekinian sering kali digemari karena rasa gurih dan teksturnya yang renyah. Namun, konsumsi berlebihan jenis makanan ini dapat menimbulkan berbagai efek negatif pada tubuh.

Salah satu dampak utama adalah rasa lapar yang muncul lebih cepat setelah makan. Hal ini terjadi karena makanan berbahan tepung umumnya mengandung karbohidrat sederhana dengan sedikit serat dan protein, sehingga lebih cepat dicerna dan diserap tubuh dibandingkan makanan yang kaya serat dan protein.

Serat dan protein berperan memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan zat gizi, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Jika komponen ini rendah, karbohidrat cepat tersedia untuk diserap, sehingga rasa kenyang mudah hilang dan frekuensi ngemil meningkat.

dr Yaze menjelaskan, "Jadi kalau misalnya sering makan yang digoreng dan bertepung kayak gini, yang pertama karena tepung itu kan karbohidrat simpleks tadi. Jadi pasti akan bikin kamu cepat lapar lagi." Kondisi ini makin perlu diwaspadai jika makanan bertepung dikonsumsi berulang sebagai camilan sepanjang hari.

Selain cepat lapar, setelah makan makanan bertepung banyak orang merasakan ngantuk dan lemas. Karbohidrat sederhana yang cepat dipecah menjadi glukosa menyebabkan kadar gula darah naik dengan cepat. Tubuh merespons ini dengan melepaskan insulin untuk menurunkan gula darah, yang kadang menimbulkan perasaan lemas dan mengantuk, fenomena yang dikenal sebagai sugar crash.

dr Yaze menambahkan, "Kombinasi makanan tinggi karbohidrat dan lemak dapat membuat tubuh terasa lebih cepat lemas setelah makan." Gorengan yang mengandung tepung dan minyak dalam jumlah besar menjadikan makanan padat energi, yang semakin memperkuat efek ini.

Kebiasaan mengonsumsi makanan bertepung berlebihan juga berpotensi meningkatkan penumpukan lemak di area perut, terutama lemak viseral yang mengelilingi organ-organ dalam rongga perut. Jika makanan bertepung menggantikan makanan utama secara terus-menerus, risiko peningkatan lemak ini makin besar.

"Kalau misalnya terus-terusan dikonsumsi, bahkan menggantikan makanan utama, itu perutnya lama-lama lemak viseralnya jadi lebih banyak," kata dr Yaze. Penumpukan lemak viseral dapat berdampak buruk untuk kesehatan jangka panjang.

Oleh sebab itu, perhatian perlu diberikan pada frekuensi dan porsi konsumsi makanan berbahan tepung. Konsumsi yang tidak terkendali dapat berdampak pada rasa kenyang, energi tubuh, dan risiko penambahan berat badan.

Penjelasan ini dikutip dari Detik Health yang membahas dampak konsumsi makanan berbahan tepung terhadap kesehatan.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: gizi kesehatan makanan tepung
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author