Dan Driscoll Siap Mundur dari Sekretaris Angkatan Darat AS Akibat Ketegangan Internal
Dan Driscoll, Sekretaris Angkatan Darat Amerika Serikat, diperkirakan akan mengundurkan diri sebelum akhir tahun 2026 dan kemungkinan lebih cepat karena ketegangan dengan Menteri Perang Pete Hegseth, dilaporkan oleh Wall Street Journal. Driscoll bersama keluarganya telah meninggalkan kediaman resmi Sekretaris Angkatan Darat di Joint Base Myer-Henderson Hall sejak awal musim panas, menandakan persiapan untuk mundur dari jabatannya, lapor IRNA dan The Wall Street Journal. Jika Driscoll benar-benar mundur, hal ini akan menambah perubahan besar dalam kepemimpinan senior militer AS yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pemecatan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Randy George oleh Hegseth pada April tanpa pengganti permanen.
Jenderal Christopher LaNeVe menjalankan posisi Kepala Staf Angkatan Darat secara sementara setelah pencopotan George.
Driscoll selama menjabat memiliki hubungan erat dengan Jenderal George dan mendorong penggunaan teknologi baru dalam strategi perang masa depan. Mereka juga pernah melakukan kunjungan ke Ukraina untuk membahas perdamaian dan teknologi militer bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, menurut Beritasatu. Dalam masa kepemimpinannya, sejumlah perusahaan swasta berkomitmen menanamkan investasi lebih dari US$ 25 miliar untuk pengembangan fasilitas militer, kata Beritasatu.
Ketegangan antara Driscoll dan Hegseth telah berlangsung berbulan-bulan. Menurut New York Post, Hegseth merasa cemas akan posisinya dan berusaha menyingkirkan pejabat yang dekat dengan Driscoll karena khawatir digantikan.
"[Hegseth] telah diberi tahu oleh Gedung Putih bahwa dia tidak bisa memecat Driscoll, setidaknya untuk saat ini," kata sumber pada New York Post.
"Jadi, yang dilakukan Pete adalah menyingkirkan siapa pun yang dia anggap dekat dengan Driscoll dan menyerang mereka," lanjut sumber itu.
Kepergian Driscoll akan memperlihatkan ketidakpastian dan perubahan besar dalam kepemimpinan sipil Angkatan Darat AS, yang terjadi bersamaan dengan ketegangan militer antara AS dan Iran yang semakin memanas, lapor Islam Times.
Agresi militer AS bersama rezim Israel terhadap Iran pada Februari hingga April lalu gagal mencapai tujuan, sementara Hegseth dikabarkan memberikan informasi yang menyesatkan kepada Presiden Trump, berbeda dengan pandangan pejabat militer senior, menurut laporan Islam Times.