Delegasi Indonesia Pelajari Ekosistem Animasi di Chongqing Film Week 2026

Share

Delegasi sineas Indonesia menghadiri ajang Chongqing International Animation Film Week 2026 yang berlangsung pada 9 hingga 13 Juni 2026. Kehadiran para profesional ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan industri animasi di China secara langsung.

Dilansir dari Detikcom, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI), Celerina Judisari, hadir memenuhi undangan resmi China Media Group dan Pemerintah Distrik Yongchuan. Langkah ini menjadi momentum penting bagi penguatan sektor kreatif nasional.

Celerina Judisari tidak datang sendirian dalam kunjungan tersebut. Ia didampingi oleh Yudhatama yang mewakili Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) serta Satrya Mahardhika selaku Kepala Program Animasi BINUS University.

Festival internasional ini menjadi ruang pertemuan strategis bagi para pelaku industri. Berbagai sektor mulai dari perfilman, teknologi, animasi, pendidikan, hingga investasi dari penjuru dunia berkumpul di Distrik Yongchuan.

Para delegasi Indonesia berpartisipasi dalam rangkaian seminar, masterclass, serta forum industri. Mereka berdiskusi langsung dengan sejumlah figur penting dunia animasi global yang hadir dalam festival tersebut.

Tokoh-tokoh yang ditemui antara lain Rob Minkoff (sutradara The Lion King), Mike Mitchell (sutradara Kung Fu Panda 4), serta Janet Yang (Presiden Academy of Motion Picture Arts and Sciences).

Hadir pula Ma Li (President China Animation Association), Yuliana Slashcheva (Russian Animation Film Association), Yu Zhou (White Snake), Johnny Zhang (Executive Producer Ne Zha), serta perwakilan dari ByteDance dan Baidu AI.

Selain menghadiri forum diskursus, delegasi Indonesia berkesempatan mengunjungi Yongchuan Technology Studio (DAWA). Fasilitas ini merupakan pusat produksi virtual dan teknologi film terdepan di kawasan tersebut.

Celerina mengungkapkan bahwa pelajaran paling berharga dari Yongchuan terletak pada sinergi antarkomponen. Kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak serentak menjadi kunci utama kemajuan mereka.

"Yang paling menarik dari Yongchuan bukan hanya teknologinya, tetapi bagaimana pemerintah, industri, kampus, dan pelaku kreatif bergerak menuju tujuan yang sama. Ekosistem seperti ini yang mempercepat pertumbuhan industri animasi China," ujar Celerina.

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ranah animasi dan film menjadi salah satu fokus utama bahasan. Produser film Kadet 1947 itu menyebut China kini telah melangkah sebagai pengembang solusi teknologi kreatif, bukan sekadar pengguna.

"Di China, AI sudah menjadi bagian dari proses produksi. Namun mereka juga menekankan bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai, emosi, dan kreativitas tetap datang dari manusia," tuturnya.

Celerina menilai Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar berupa talenta kreatif dan kekayaan narasi. Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah perihal integrasi seluruh elemen pendukung industri secara konsisten.

"Indonesia memiliki talenta dan cerita yang luar biasa. Tantangan kita bukan kekurangan kreativitas, melainkan bagaimana membangun ekosistem yang terintegrasi dan konsisten agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan."

Kunjungan kerja ke China ini membuka peluang kolaborasi konkret bagi AINAKI dan BINUS University. Kerja sama mendatang akan difokuskan pada pengembangan bakat, pertukaran pengetahuan, serta kemitraan industri animasi antarkedua negara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author