Dicky Budiman Desak Pembenahan Budaya Akademik Nasional

Share

Epidemiolog Dicky Budiman mendesak pembenahan menyeluruh terhadap budaya akademik nasional sebagai respons atas dugaan kasus riset bodong yang menyeret peneliti asal Indonesia. Langkah pencegahan dinilai krusial agar praktik manipulasi penelitian tidak kembali terulang di masa depan.

Perbaikan sistem ini memerlukan penanaman integritas ilmiah sejak dini di lingkungan pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (29/5/2026). Dicky menilai pemahaman mengenai etika riset tidak boleh ditunda hingga seseorang menjadi peneliti.

"Pendidikan integritas ilmiah sejak awal itu penting. Masalah plagiarisme, etika penelitian, sampai penggunaan AI yang etis harus diajarkan dari awal," kata Dicky dalam keterangannya, Jumat (28/5).

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia akademik juga menjadi sorotan penting. Teknologi tersebut harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran utama peneliti dalam menghasilkan karya ilmiah.

"AI itu sebaiknya diposisikan sebagai asisten, bukan pengganti peneliti," ujarnya.

Pengawasan melalui audit metodologi riset juga perlu diperkuat dengan menelusuri data mentah serta proses validasi, bukan sekadar melihat hasil akhir. Pola ukur keberhasilan akademik yang saat ini bertumpu pada kuantitas publikasi, sertifikat, dan konferensi dinilai menjadi pemicu utama munculnya kecurangan.

"Kalau ukuran sukses hanya jumlah publikasi, jumlah konferensi, jumlah sertifikat, maka fraud akan terus muncul," katanya.

Penegakan sanksi yang tegas dan transparan terhadap pelaku fraud akademik menjadi tuntutan akhir guna memberikan efek jera. Pelanggaran berat seperti pemalsuan dokumen atau manipulasi pendanaan harus dibawa ke ranah hukum.

"Harus ada konsekuensi hukum juga, apalagi kalau sudah ada pemalsuan dokumen atau pendanaan," ujar Dicky.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author