Mengenal Peran Dokter Spesialis Radang Sendi dan Metode Penangannya

Share

Nyeri sendi yang terus menerus muncul atau kekakuan di pagi hari sering kali hanya dianggap sebagai efek penuaan. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tubuh memerlukan penanganan dari dokter spesialis radang sendi, seperti dikutip dari Detik Health.

Banyak penderita yang menunda pemeriksaan sampai kondisi fisik mereka semakin parah. Padahal, melakukan deteksi sejak dini terbukti mampu menghindari kerusakan sendi yang bersifat permanen sekaligus menjaga kualitas hidup untuk jangka panjang.

Dokter spesialis radang sendi merupakan tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus untuk mendiagnosis serta menangani lebih dari 100 jenis penyakit pada sendi, otot, dan jaringan ikat. Berdasarkan informasi Medical News Today, keahlian mereka berfokus pada penyakit autoimun sistemik yang memicu peradangan pada sendi, ligamen, tendon, otot, dan tulang.

Tenaga medis di bidang ini juga berkompeten mendiagnosis pemicu hilangnya tulang rawan atau massa tulang, termasuk kasus osteoartritis dan osteoporosis. Di Indonesia, penanganan masalah ini melibatkan kolaborasi beberapa bidang spesialisasi.

Beberapa spesialisasi tersebut meliputi Dokter Spesialis Ortopedi (Sp.OT) yang menangani gangguan struktural baik lewat tindakan bedah maupun non-bedah. Selain itu, ada Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) untuk pemulihan fungsi gerak, serta Dokter Spesialis Anestesiologi (Sp.An) yang berperan dalam manajemen nyeri melalui prosedur intervensi.

Penyakit radang sendi tidak hanya terdiri dari satu jenis saja. Menurut data Mayo Clinic, terdapat tiga jenis varian yang paling sering ditemukan pada pasien.

Pertama adalah Osteoarthritis (OA), yaitu bentuk artritis paling umum yang muncul akibat menipisnya tulang rawan pelapis ujung tulang. Gejala yang biasa dirasakan pasien meliputi nyeri pada lutut, berkurangnya fleksibilitas, dan kaku setelah tubuh beristirahat.

Kedua, Rheumatoid Arthritis (RA) yang merupakan penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh menyerang sinovium atau lapisan membran pelindung sendi, sehingga memicu peradangan kronis, pembengkakan, serta kekakuan simetris yang berlangsung lebih dari 30 menit di pagi hari.

Ketiga adalah Gout, jenis artritis yang memicu serangan nyeri tajam secara mendadak, disertai warna kemerahan dan bengkak yang biasanya bertumpu pada area jempol kaki. Masalah ini muncul akibat penumpukan kristal asam urat pada sendi.

Waktu Tepat Menemui Dokter Spesialis

Konsultasi medis sebaiknya tidak ditunda apabila seseorang mulai merasakan gejala-gejala spesifik pada tubuhnya. Gejala tersebut meliputi rasa nyeri yang menetap selama beberapa minggu dan obat pereda nyeri biasa yang sudah tidak mempan.

Tanda lainnya adalah sendi yang membengkak, terasa hangat, atau memerah, serta mulainya gangguan pada aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan juga penting jika muncul kecurigaan ke arah penyakit autoimun.

Pentingnya pemeriksaan sejak awal ini dikonfirmasi oleh salah satu tenaga medis. dr. Windi Martika, Sp.OT, salah satu dokter spesialis di Klinik Patella, menegaskan pentingnya pemeriksaan lebih awal.

"Deteksi dini kondisi nyeri sendi dapat mencegah kondisi sendi memburuk menjadi lebih kompleks dengan melakukan pengobatan lebih dini," ujar dr. Windi dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).

Metode Diagnosis dan Pilihan Terapi Medis

Langkah diagnosis radang sendi dijalankan secara menyeluruh oleh tim dokter. Prosesnya meliputi pemeriksaan fisik, penelusuran riwayat kesehatan pasien, dan pemanfaatan pemindaian seperti X-ray serta MRI untuk melihat kerusakan struktural.

Dokter juga dapat melakukan tes darah guna memantau penanda spesifik seperti faktor rheumatoid, atau mengambil sampel cairan sendi untuk mendeteksi infeksi dan gout. Setelah diagnosis tegak, beragam opsi terapi modern non-bedah hingga minimal invasif dapat diterapkan.

Opsi pengobatan tersebut meliputi pemberian obat-obatan seperti NSAID untuk fase akut, kortikosteroid, hingga methotrexate untuk kasus rheumatoid arthritis. Selain itu, pasien dapat menjalani fisioterapi serta hidroterapi guna memperkuat otot di sekitar sendi.

Metode lainnya adalah Injeksi Viskosuplemen sebagai pelumas sendi, Injeksi Platelet Rich Plasma (PRP) untuk merangsang perbaikan jaringan, serta Terapi Stem Cell dan Terapi Secretome pada tingkat seluler. Tersedia juga Radiofrekuensi Ablasi (RFA) untuk nyeri kronis serta tindakan minimal invasif Endoskopi Richard Wolf.

Bagi masyarakat di area Jakarta dan sekitarnya, penanganan terpadu ini dapat diakses di Klinik Patella yang menerapkan sistem kolaborasi multidisiplin.

"Yang membedakan Klinik Patella dari klinik biasa adalah kolaborasi langsung antara Dokter Spesialis berpengalaman dalam satu atap, sehingga pasien mendapat penilaian dan penanganan yang menyeluruh, bukan parsial," ujar dr. Windi.

Fasilitas di klinik ini menyediakan opsi terapi mulai dari fisioterapi, injeksi pelumas, hingga tindakan endoskopi. Pendekatan medis terintegrasi ini sangat membantu pasien lanjut usia yang membutuhkan pertimbangan klinis lebih mendalam sebelum menjalani program pengobatan.

FAQ: Dokter Spesialis Radang Sendi

1. Apa bedanya dokter spesialis ortopedi dan dokter reumatologi untuk radang sendi?

Dokter spesialis ortopedi (Sp.OT) berfokus pada penanganan struktural tulang dan sendi, termasuk tindakan bedah. Sementara dokter reumatologi menangani penyakit autoimun dan inflamasi sendi secara medis.

2. Apakah radang sendi bisa disembuhkan sepenuhnya?

Tergantung jenisnya. Osteoarthritis bersifat degeneratif dan tidak dapat disembuhkan total, namun progresnya bisa diperlambat dengan penanganan yang tepat. Gout dapat dikelola dengan baik melalui perubahan gaya hidup dan obat-obatan.

3. Kapan seseorang perlu operasi untuk radang sendi?

Operasi seperti total knee replacement dipertimbangkan ketika terapi konservatif dan minimal invasif sudah tidak lagi memberikan perbaikan yang memadai, dan kualitas hidup pasien terganggu secara signifikan.

4. Apakah terapi PRP dan stem cell efektif untuk radang sendi?

Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, terutama untuk osteoarthritis stadium ringan hingga sedang. Efektivitasnya bervariasi tergantung kondisi individu dan stadium penyakit.

5. Berapa lama proses pemulihan radang sendi?

Durasi pemulihan sangat bergantung pada jenis pengobatan yang dipilih. Fisioterapi biasanya berlangsung beberapa minggu hingga bulan. Prosedur injeksi umumnya menunjukkan hasil dalam beberapa hari hingga minggu, sedangkan tindakan bedah bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author