Donald Trump Hadapi Kecaman Internal Usai Teken MoU Damai dengan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kecaman keras dari internal partainya sendiri setelah menandatangani nota kesepahaman atau MoU damai dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Kesepakatan jarak jauh yang ditandatangani di Prancis tersebut bertujuan mengakhiri permusuhan secara permanen di semua front, membuka kembali Selat Hormuz, memulai gencatan senjata 60 hari, serta mencabut sanksi dan blokade ekonomi AS terhadap Iran. Langkah ini diambil demi menjaga pasokan minyak global, meskipun Teheran baru bisa bergabung dalam ekonomi global jika memenuhi komitmen yang ditentukan, termasuk pembahasan rencana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar.
"Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan?
Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan, Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia," sebut Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Kebijakan luar negeri ini langsung memicu kemarahan dari sejumlah senator Partai Republik yang menilai kesepakatan tersebut melonggarkan sanksi tanpa komitmen tegas dari Iran terkait pengayaan uranium dan rudal balistik. "Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup," tulis Bill Cassidy, Senator Republik.
Kritik senada juga datang dari ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat yang melihat dana rekonstruksi tersebut akan memperkuat posisi Iran. "Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran — meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS — akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan," kata Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat.
Di sisi lain, Senator John Cornyn mengkhawatirkan kesepakatan ini hanya menjadi jeda bagi Iran untuk membangun kembali persenjataannya, sementara Partai Demokrat secara kompak menolak hasil kesepakatan yang dianggap mengembalikan status quo. "Semua orang yang membeli bukunya Trump 'The Art of the Deal' seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'," cetus Chuck Schumer, Pemimpin Partai Demokrat di Senat. Pihak Gedung Putih menegaskan kesepakatan ini belum bersifat final dan memperingatkan bahwa serangan militer dapat dilanjutkan kembali jika proses negosiasi selama masa gencatan senjata mengalami kegagalan.