Donald Trump Klaim Militer Iran Melemah Akibat Perang

Share

Kemampuan militer Iran diklaim telah mengalami pelemahan drastis akibat konflik bersenjata oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (20/6/2026). Pernyataan tersebut sekaligus membantah berbagai kritik yang dilayangkan Partai Demokrat AS terhadap kebijakan pemerintahannya dalam menangani konflik dengan Iran.

Penegasan mengenai kelumpuhan kekuatan pertahanan Teheran disampaikan langsung oleh pemimpin jelata AS tersebut melalui platform media sosial. Informasi mengenai pernyataan sepihak ini dilansir dari Detikcom yang mengutip laporan Anadolu Agency.

"Perang telah melemahkan Iran!" kata Trump.

Narasi mengenai kerusakan masif pada struktur pertahanan lawan kemudian dirincikan lebih lanjut oleh sang presiden dalam taklimat daringnya.

"Iran tidak lagi memiliki Angkatan Udara, Angkatan Laut, perlengkapan antipesawat, radar, atau hampir semua hal lainnya," klaim Trump.

Selain menyasar aspek militer, argumen dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei turut disanggah oleh Trump. Khamenei sebelumnya menuduh Washington berada dalam posisi terdesak sehingga memanfaatkan berbagai ruang negosiasi demi mengamankan nota kesepahaman (MoU) perdamaian.

"Kita tidak bertemu karena putus asa, Iran yang putus asa. Mereka SUDAH SELESAI! Kita akan melanjutkan selama 60 hari. Mereka tidak akan mendapatkan uang, bahkan sepuluh sen pun!" sebut Trump.

Oposisi domestik tidak luput dari kecaman berkala sang presiden terkait penilaian mereka atas peta kekuatan geopolitik terbaru di Timur Tengah. Partai Demokrat dinilai keliru karena menganggap posisi Teheran justru menguat dalam beberapa waktu terakhir.

"Namun Partai Demokrat mengatakan bahwa Iran sekarang lebih baik daripada empat bulan lalu. Bisakah Anda bayangkan bisa lolos setelah mengatakan hal itu??? Betapa bodohnya beberapa orang???" ucap Trump.

Langkah diplomatik formal sebenarnya telah diinisiasi oleh Trump pada Rabu (17/6) malam melalui pengesahan dokumen elektronik berkas MoU. Kesepakatan awal untuk menyudahi perang ini juga ditandatangani secara jarak jauh oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta melibatkan pihak Israel.

Implementasi dari kesepakatan tersebut mewajibkan Washington dan Teheran menjalankan perundingan susulan selama 60 hari demi merumuskan status program nuklir Iran dan sanksi internasional. Melalui pakta ini, blokade armada laut AS resmi dihentikan sementara Iran diharuskan segera mengaktifkan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author