Ekspor Minyak Iran Melonjak Buat Harga Bensin di AS Turun
Sekitar 20 juta barel minyak mentah asal Iran mulai dikapalkan menuju pasar global pasca-tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Detik Finance, pelonggaran pembatasan ekspor ini ikut mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang biasanya menjadi lintasan bagi sekitar 20% perdagangan minyak di seluruh dunia.
Masuknya tambahan pasokan ini langsung memicu penurunan tajam harga minyak dari level tertingginya pada musim semi. Dampak penurunan tersebut turut dirasakan oleh konsumen di Amerika Serikat. Harga rata-rata bensin di negara paman sam tersebut kini berhasil ditekan hingga berada di bawah US$ 4 per galon.
Sebanyak 11 kapal tanker yang mengangkut total 20 juta barel minyak dilaporkan telah meninggalkan Pelabuhan Chabahar di Iran pekan ini. Pengiriman dilakukan setelah komoditas tersebut sempat tertahan selama berbulan-bulan akibat sanksi pembatasan ekspor.
Momentum pelepasan pasokan minyak ini berjalan beriringan dengan realisasi nota kesepahaman antara AS dan Iran. Kerja sama kedua negara ini sengaja dirancang untuk meredakan ketegangan sekaligus memulihkan kelancaran jalur pelayaran internasional. Di sisi lain, Kepala Ekonom LPL Financial, Jeffrey Roach menilai pelaku pasar global sejauh ini terlalu mengkhawatirkan risiko pasokan yang bersumber dari Selat Hormuz. Menurutnya, ada faktor lain yang tidak kalah krusial.
Jeffrey Roach mengindikasikan bahwa penyusutan angka permintaan minyak dari China sebenarnya bisa menjadi indikator yang lebih kuat dalam menentukan arah pergerakan harga minyak dunia ke depan. Langkah taktis seperti pelepasan cadangan minyak strategis dan penurunan aktivitas kilang turut meredam gejolak di Timur Tengah. Kondisi ini diperkuat oleh adanya tambahan produksi minyak dari Brasil, Guyana, serta Amerika Serikat.
"Pertanyaan utamanya adalah berapa lama Beijing dapat terus mengimpor minyak mentah dalam jumlah yang begitu rendah," tutur Roach. Melemahnya daya serap pasar China dinilai menjadi faktor utama yang menahan lonjakan harga. Impor minyak mentah negara tersebut merosot hingga menyentuh angka 6,7 juta barel per hari pada bulan lalu.
Volume impor tersebut menunjukkan penurunan hingga hampir 40% jika dibandingkan dengan rata-rata pasokan sepanjang tahun 2025. Penurunan konsumsi ini setara dengan berkurangnya permintaan sekitar 4 juta barel per hari.
Secara kumulatif, angka penurunan permintaan dari China tersebut setara dengan total volume konsumsi minyak negara Jerman dan Prancis yang digabungkan. Anjloknya pemintaan ini efektif mengimbangi hambatan pasokan akibat konflik Timur Tengah.