Emisi Karhutla Kalimantan Meningkat Tajam Dipicu El Nino 2026

Share

Aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali meluas hingga memicu lonjakan emisi dan kabut asap di kawasan regional. Kondisi terkini yang didominasi area Kalimantan ini mendapat sorotan langsung dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), seperti dilansir dari Detik iNET. Pemantauan satelit lembaga riset yang diimplementasikan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) tersebut merekam kenaikan intensitas api yang cukup signifikan.

Lonjakan karhutla musiman ini terdeteksi mulai meloncat sejak akhir Juli 2026. Titik api awal dilaporkan terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Melalui sistem Global Fire Assimilation System (GFAS), CAMS mengukur Fire Radiative Power (FRP) atau energi aktif kebakaran untuk memperkirakan volume emisi biomassa secara real-time.

Senior Scientist ECMWF di CAMS, Mark Parrington, menilai perkembangan ini selaras dengan tren historis fenomena iklim global. Dampak peningkatan kualitas udara yang memburuk diprediksi masih akan terus dibayangi oleh pergerakan angin dalam beberapa pekan mendatang.

"Untuk Indonesia, emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El Niño sebelumnya," kata Parrington. Data pemantauan CAMS tersebut terkonfirmasi searah dengan temuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan observasi satelit Himawari-9 per 19 Agustus 2026, sebaran asap sudah membentang di Kalimantan serta Sumatera bagian tengah dan selatan.

Laporan BMKG mencatat tingkat kepercayaan titik panas yang tinggi muncul di Kalimantan dan Papua akibat cuaca minim hujan. Pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) resmi memasuki musim kemarau, dengan 90,79 persen wilayah mencatat curah hujan rendah. Lahan gambut menjadi faktor kritis yang memperparah penanganan karhutla di Kalimantan. Kandungan material organik tebal yang mengering membuat kobaran api tidak hanya membakar vegetasi luar, tetapi menyusup dan membara di bawah tanah.

Karakteristik api bawah permukaan ini kerap memicu munculnya titik panas baru walau area atas sudah tampak padam. Pembakaran gambut secara konsisten melepaskan partikulat padat yang memperburuk konsentrasi polutan udara di sekitarnya.

Potensi Dampak Regional Kian Memburuk

Potensi ancaman karhutla 2026 diperkirakan makin berat akibat kombinasi fenomena El Niño kuat di Pasifik ekuator dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Rekam jejak CAMS mencatat eskalasi karhutla serupa pernah melanda Indonesia pada periode El Niño 1997, 2005/2006, 2015, 2019, dan 2023.

Selain Kalimantan, sebaran api besar juga ditemukan di Papua Selatan, termasuk kawasan ekosistem sabana Taman Nasional Wasur, serta beberapa titik di Sumatra. Kabut asap bahkan memaksa puluhan sekolah di Pontianak meliburkan siswa dan dampaknya terdeteksi melintas hingga ke Singapura dan Malaysia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author