Evakuasi Jenazah Relawan Gempa NTT Dilakukan Menggunakan Helikopter Basarnas
Tim SAR gabungan mengerahkan helikopter Dauphin milik Basarnas untuk mengevakuasi jenazah Ahmad Zaki Ali (42), pendiri Yayasan Gerak Bareng yang meninggal dunia saat mendistribusikan bantuan logistik bagi korban gempa di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (22/8/2026).
Proses evakuasi pimpinan relawan asal Jakarta tersebut dilakukan dari kawasan Lamba Leda Utara menuju Labuan Bajo, sebelum akhirnya diterbangkan ke kediamannya di Jakarta pada hari yang sama.
Penyebab kematian almarhum diduga akibat serangan jantung pascamengalami kelelahan fisik saat menempuh rute pendistribusian logistik dari Reo menuju Lamba Leda Utara, yang merupakan wilayah terdampak parah gempa Flores.
Deputi Operasi dan Siaga Basarnas, Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso menjelaskan situasi di lapangan saat almarhum mengalami penurunan kondisi kesehatan hingga tak sadarkan diri.
"Pada saat kejadian yang bersangkutan dalam rangka pendistribusian logistik dari Reo menuju Lamba Leda," kata Edy, Sabtu (22/8/2026).
Sebelum hilang kesadaran, almarhum sempat meminta pengemudi menghentikan armada pengangkut logistik karena merasa tubuhnya memburuk saat dalam perjalanan darat.
"Di perjalanan beliau merasa kondisinya kurang baik sehingga menyampaikan kepada rekannya menghentikan kendaraan logistik tersebut untuk dibantu karena ingin melepaskan jaket maupun helm," jelas Edy.
Rekan sesama relawan yang berada di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama dan membawa korban menuju fasilitas medis terdekat di Puskesmas Dampek.
"Rekannya membantu tapi korban tidak sadarkan diri dan dibawa ke puskesmas terdekat yaitu di Dempak (Dampek). Pada saat pemeriksaan dari dokter di Dempak korban dinyatakan meninggal dunia," terang Edy.
Pihak Basarnas kemudian langsung menyusun skema penanganan cepat untuk memindahkan jenazah dari lokasi kejadian menuju bandara udara internasional terdekat.
"Sehingga pada hari ini kita mengantarkan almarhum dari Lambaleda menuju Labuan bajo yang nantinya akan kita berangkatkan menuju Jakarta di kediaman," tandas Edy.
Selain peristiwa di Manggarai Timur, catatan insiden medis lain di wilayah Nusa Tenggara terjadi pada korban kebakaran Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin atas nama Ardiyansyah (37) yang meninggal dunia usai delapan hari dirawat di RSUD Patut Patuh Patju, Lombok Barat, Rabu (19/8/2026).
Dokter spesialis yang menangani korban di RSUD Tripat, dr Ni Nyoman Ayu Suciarini mengungkapkan kegagalan fungsi organ penafasan akibat banyaknya air laut yang masuk ke paru-paru korban.
"Paru-parunya itu seperti terbenam dipenuhi air. Jadinya pertukaran oksigen terganggu. Air laut itu menarik semua cairan yang ada ke dalam lapisan alveoli. Itu sel-sel di paru-paru yang fungsinya pertukaran oksigen," jelas Ayu, Kamis (20/8/2026).
Paparan cairan laut tersebut memicu penurunan kadar oksigen secara mendadak yang memperburuk kondisi klinis pasien secara keseluruhan.
"Cairan dan sel darah putih memenuhi kantong udara alveolus. Akibatnya oksigen tidak bisa masuk ke darah. Kemudian korban mengalami gagal nafas atau Respiratory Failure. Ini penyebab utama kematiannya," jelas Ayu.
Gagal napas akut tersebut memicu komplikasi fatal lanjutan yang berdampak langsung pada penurunan fungsi ginjal pasien.
"Untuk kompensasi gagal napas juga, tubuh melepas hormon stres. Pembuluh darah menyempit. Aliran darah ke ginjal jadi berkurang drastis," terangnya.
Kandungan tinggi garam pada air laut yang masuk ke sistem peredaran darah memperberat beban kerja ginjal hingga memicu kerusakan sel secara masif.
"Ini khas air laut. Garam yang tertelan itu masuk ke paru dan masuk ke dalam darah. Darah jadi terlalu asin atau kental, kemudian ginjal dipaksa kerja keras menyaring garam berlebih. Lama-lama terjadi overload, yang akhirnya mengakibatkan gagal ginjal," kata Ayu.
Di Kabupaten Dompu, NTB, dinamika publik diwarnai aksi protes orang tua pemenang lomba lari 10 kilometer di Kecamatan Kilo pada Selasa (18/8/2026) lantaran hadiah yang diterima hanya berupa tiga buah gelas kaca.
Orang tua peserta, Ibrahim, meluapkan kemarahannya di Kantor Camat Kilo setelah menganggap panitia tidak merealisasikan hadiah uang tunai sebesar Rp 2 juta yang diumumkan sebelumnya.
"Lari kemarin tidak masuk akal, cuma hadiah gelas," kata pengunggah video yang dilihat detikBali Rabu (19/8/2026).
Ibrahim sempat melempar gelas kaca tersebut ke arah pejabat setempat sebelum akhirnya dilerai oleh petugas dan panitia penyelenggara.
Camat Kilo Rusdi mengonfirmasi adanya insiden adu mulut tersebut dan memberikan penjelasannya terkait tindakan pengamanan yang dilakukannya di lokasi kejadian.
"Saya pegang baju dia itu dengan tujuan untuk meredakan emosinya dia. Bukan apa-apa," jelas Rusdi.
Pemerintah kecamatan menyatakan ketidaksesuaian pembagian hadiah tersebut terjadi akibat kendala miskomunikasi internal di tingkat panitia penyelenggara.