Fabio Quartararo Resmi Sepakati Kontrak Dua Musim Bersama Honda
Pembalap asal Prancis Fabio Quartararo resmi memutuskan untuk mengakhiri masa baktinga bersama Yamaha dan bergabung dengan tim pabrikan Honda HRC mulai musim MotoGP 2027 dengan durasi kontrak dua tahun.
Keputusan besar Juara Dunia MotoGP 2021 tersebut dipicu oleh penurunan performa paket motor YZR-M1 yang tak kunjung membaik, di mana ia telah melewati 84 seri berturut-turut tanpa mampu meraih kemenangan sejak Grand Prix Jerman pada 2022.
Hasil mengecewakan kembali berlanjut pada musim 2026 saat Quartararo tertahan di peringkat ke-14 klasemen sementara setelah hanya mampu mencatatkan posisi finis terbaik di urutan kelima dari 12 seri awal.
Niat untuk hengkang dari pabrikan asal Iwata itu sebenarnya telah terbentuk ketika sang pembalap menjalani sesi pengujian pascamusim di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, pada November 2025.
Quartararo menilai proses pengembangan mesin V4 yang dilakukan Yamaha berjalan sangat lambat serta gagal memberikan lompatan performa seperti yang ia harapkan sejak tes pertama di Barcelona pada September 2025.
Selain faktor teknis motor, dorongan untuk mencari suasana baru dan dinamika tim yang lebih berani mengambil risiko menjadi alasan utama di balik kepindahannya ke Honda.
Pembalap berjuluk El Diablo tersebut terkesan dengan progres tim sayap mengepak yang mulai bangkit dari masa sulit usai mengamankan satu kemenangan dan tiga podium pada musim lalu.
Proyek pengembangan mesin 850cc yang dipimpin oleh mantan Direktur Teknis Aprilia Romano Albesiano serta rekrutmen pembalap penguji berpengalaman membuat Quartararo yakin pada masa depan Honda.
"Dalam hal ini, faktor utamanya adalah motornya," ujar Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia menyampaikan apresiasinya kepada Yamaha atas kebersamaan mereka, namun menegaskan bahwa perubahan menyeluruh merupakan kebutuhan mendasar bagi kariernya saat ini.
"Saya telah menghabiskan seluruh karier MotoGP saya bersama Yamaha. Tentu saja, saya sangat senang dan berterima kasih kepada Yamaha," kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Namun, ia menyadari bahwa mentalitas dan paket motor yang baru sangat diperlukan untuk memulihkan motivasi tandingnya di papan atas.
"Namun bagi saya, ini adalah saat yang tepat untuk pindah. Saya membutuhkan suasana baru, orang-orang baru, dan proyek baru. Saya butuh perubahan dalam segala hal, baik dari sisi mental maupun paket motornya," kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Keinginan untuk kembali bersaing di barisan depan menjadi alasan utama mengingat performa motor saat ini membatasinya untuk melakukan aksi menyalip secara bersih.
"Kita tahu bahwa mereka juga sempat berada dalam situasi sulit. Namun, perkembangan yang mereka capai dalam beberapa tahun terakhir serta proyek masa depan mereka benar-benar membuat saya ingin bergabung ke sana," ujar Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia mengungkapkan kekecewaannya karena tidak lagi dapat menikmati jalannya balapan di atas lintasan akibat keterbatasan paket motor.
"Di tes Valencia tahun lalu, aku merasa aku membutuhkan sesuatu yang baru. Saat itulah aku memutuskan untuk berpisah dengan Yamaha," ungkap Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia menegaskan keputusannya dibuat demi mengejar jiwa kompetitifnya yang hilang dalam beberapa musim terakhir.
"Ketika itu, aku tidak tahu persis ke tim mana aku akan bergabung, tapi aku tahu bahwa aku ingin ganti tim, dan kupikir itu adalah momen yang tepat," kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Kesulitan mempertahankan posisi di lintasan membuatnya semakin mantap untuk mencari tantangan baru bersama pabrikan lain.
"Terus terang, aku tidak banyak bersenang-senang. Terutama karena aku adalah orang yang sangat kompetitif, dan bahkan ketika aku memaksa sekeras mungkin, aku melihat pebalap lain menyalipku padahal aku bisa saja lebih kencang," kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia menyebut ketidakmampuannya bersaing memperebutkan posisi depan sebagai penyebab utama hilangnya rasa senang saat membalap.
"Pada tahun lalu, kami tidak banyak membuat manuver overtaking juga, tapi musim ini kurasa aku belum menyalip siapapun — maksudku sebuah manuver menyalip yang nyata, dan kemudian menjaga posisiku. Aku menikmati ketika aku tahu aku bisa bersaing untuk sesuatu, itulah mengala aku tidak bersenang-senang sekarang," sungut Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia juga menjelaskan perbedaan pendekatan antara pabrikan Eropa dan Jepang dalam merespons regulasi balap.
“Dalam tes di Valencia tahun lalu, saya merasa membutuhkan sesuatu yang baru,” kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Proses pengembangan motor Yamaha dinilainya terlalu lambat sehingga menciptakan jarak performa yang cukup lebar dengan pesaingnya.
“Di situlah saya memutuskan untuk berpisah dengan Yamaha. Saat itu saya belum tahu persis ke tim mana saya akan pindah, tapi saya tahu ingin berganti tim dan saya yakin itu adalah waktu yang tepat,” kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Lompatan performa dari motor pertama ke paket terbaru dinilainya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan selama hampir satu tahun.
“Saya mengharapkan hasilnya jauh lebih baik daripada sekarang, terutama mengingat tes pertama yang dilakukan di Barcelona – yang berlangsung pada September 2025 – Sebenarnya itu bukan tes yang luar biasa: kami lebih lambat dibandingkan dengan mesin 4 silinder segaris, tetapi kondisi lintasan tidak terlalu baik – jelas pembalap asal Prancis itu – dan mengingat itu adalah pertama kalinya saya mengendarai motor itu di lintasan, waktu putaran saya sama sekali tidak buruk. Masalahnya adalah ketika Anda memulai sebuah proyek baru, biasanya langkah-langkah awal yang diambil sangat besar, sementara kemudian menjadi rumit untuk menemukan sepersepuluh detik terakhir. Sebaliknya, kami tidak pernah membuat lompatan besar dari motor pertama ke motor yang kini sudah berusia hampir satu tahun. Hari ini, kami masih memiliki paket yang sangat, sangat mirip dengan motor pertama yang pernah kami kendarai,” terang Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Perasaan tidak menikmati balapan menjadi alasan mendasar yang membuatnya enggan bertahan lebih lama.
“Sejujurnya, saya tidak terlalu menikmati balapan. Terutama karena saya adalah orang yang sangat kompetitif dan, meskipun saya sudah memacu motor sekuat tenaga, saya melihat pembalap lain menyalip saya padahal saya tahu saya bisa lebih cepat. Tahun lalu pun kami tidak melakukan banyak penyalipan, tapi tahun ini saya rasa saya belum benar-benar menyalip siapa pun: maksud saya penyalipan yang sesungguhnya, yang kemudian berhasil mempertahankan posisi. Saya menikmati balapan ketika tahu bisa bersaing untuk sesuatu, itulah sebabnya sekarang saya tidak menikmati balapan,” lanjut Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Sebelum menjatuhkan pilihan pada Honda, ia sempat memikirkan tawaran lain dari beberapa pabrikan pada musim-musim sebelumnya.
“Sejujurnya, pada tahun 2022 memang ada negosiasi yang sangat, sangat serius dengan Suzuki. Kemudian, tentu saja, dua tahun lalu dengan pabrikan lain,” kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia meyakini perubahannya menuju Honda akan membawa dampak positif karena struktur pengembangan yang berani dalam berinovasi.
“Saya rasa sebenarnya situasinya tidak begitu mirip, karena ada banyak hal, baik di lintasan maupun di luar lintasan, yang menurut saya sangat berbeda, ” kata Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia menilai kesiapan Honda dalam menyambut regulasi baru menjadi modal berharga bagi persaingan mendatang.
“Dengan regulasi baru dan motor baru, saya rasa ini adalah sebuah pertaruhan, tapi saya telah melihat beberapa hal. Tentu saja kami telah mengadakan banyak pertemuan dengan berbagai tim dan juga dengan Honda. Dan apa yang mereka tunjukkan kepada saya membuat saya ingin menjadi bagian dari proyek itu. Meskipun mereka telah melewati masa-masa sulit, terutama dua tahun lalu, mereka telah berkembang pesat dan saya pikir akan sangat menarik untuk melihat motor tahun depan,” tambah Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Perubahan dalam tata cara kerja di Honda menjadi faktor penentu yang meyakinkannya untuk menandatangani kontrak.
“Saya yakin sejak 2020 hingga kini, pabrikan Eropa sangat cepat dalam mengambil keputusan dan jauh lebih berani mengambil risiko. Mengenai Yamaha, yang saya kenal, kami tidak cukup berani mengambil risiko dalam pengembangan motor. Kami selalu terlalu lambat.
Saya rasa inilah alasan mengapa pabrikan Eropa berhasil menciptakan jarak yang begitu besar. Di Honda, saya melihat adanya perubahan: mereka memperkenalkan inovasi dengan jauh lebih cepat dan saya yakin kini mereka telah memahami apa yang mereka butuhkan untuk bersaing dengan pabrikan lain,” jelas Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia juga menyatakan rasa senangnya karena kepindahan ke HRC mewujudkan salah satu impian masa kecilnya.
“Secara jujur, saya tidak benar-benar bersenang-senang lagi. Terutama karena saya adalah tipe orang yang sangat kompetitif. Bahkan ketika saya menekan hingga batas maksimal, sangat sulit untuk melakukan aksi overtake yang bersih dan mempertahankan posisi. Itulah mengapa saya tidak menikmati situasi ini sekarang,” tutur Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Ia mengungkapkan bahwa dua tim besar asal Jepang tersebut telah lama menjadi target kariernya.
“Pada tes Valencia tahun lalu, saya merasa membutuhkan sesuatu yang baru. Di sanalah kami memutuskan untuk melangkah pergi dari Yamaha. Saat itu saya belum tahu pasti tim mana yang akan saya tuju, namun saya tahu saya harus berpindah tim dan saya pikir itu adalah momen yang sangat tepat,” ujar Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Inovasi teknis Honda dinilainya memberikan harapan tinggi untuk meraih kesuksesan di masa depan.
“Sejak kecil, dua tim impian saya selalu Yamaha dan Honda. Jadi, bergabung ke sana terasa seperti impian masa kecil yang terwujud. Walaupun mereka melewati masa-masa sulit dalam dua tahun terakhir, kemajuan yang mereka tunjukkan sangat besar dan proyek untuk tahun depan akan sangat menarik,” tegas Fabio Quartararo, Pembalap MotoGP.
Di sisi lain, Manajemen Honda Racing Corporation menyambut hangat kedatangan juara dunia 2021 tersebut untuk memimpin era baru mereka pada 2027.
Manajer Tim HRC Alberto Puig mengonfirmasi bahwa target utama tim adalah membawa Honda dan Quartararo kembali ke puncak kejayaan ajang Grand Prix.
Langkah HRC mendatangkan Quartararo memicu pergeseran deretan pembalap, di mana Joan Mir dipastikan berlabuh ke Gresini Ducati dan Luca Marini menuju Tech3 KTM.
Sementara itu, Honda belum memutuskan siapakah yang akan mendampingi Quartararo di tim pabrikan antara talenta muda David Alonso atau pembalap LCR Diogo Moreira, sembari mengonfirmasi transisi kepemimpinan Alberto Puig ke peran penasihat HRC yang akan digantikan oleh Mikihiko Kawase.
"Tentu saja, hanya ada satu target," ujar Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia menegaskan kembalinya Honda ke papan atas merupakan sasaran mutlak dari kerja sama ini.
“Namun, hanya ada satu tujuan, dan pastinya, bagi Fabio maupun Honda, targetnya adalah kembali dan berupaya meraih posisi puncak,” kata Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia menyebut kepastian arah dan tujuan tim sudah disepakati oleh kedua belah pihak.
"Hal ini sudah jelas.” ujar Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia melontarkan pujian atas kapasitas dan kecepatan yang dimiliki pembalap barunya tersebut.
"Fabio adalah seorang juara dunia. Menurut saya, dia adalah salah satu pembalap tercepat di grid, dan tentu saja Honda senang dengan [kesepakatan] ini," ujar Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas kontribusi pembalap yang akan meninggalkan tim pada akhir musim.
"Kami senang dan berterima kasih atas kinerja Joan dan Luca selama beberapa tahun terakhir karena mereka telah membantu kami mengembangkan motor, dan kami harus berterima kasih atas segala upaya mereka," ujar Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia menegaskan fokus Honda kini tertuju penuh pada penyusunan strategi masa depan bersama susunan pembalap baru.
"Segala sesuatu pasti ada akhirnya, dan masa kebersamaan dengan mereka pun telah usai. Kini, kami akan memulai langkah baru bersama pembalap baru. Jadi, kami mensyukuri masa lalu dan menatap masa depan dengan penuh harapan." kata Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Mengenai kedatangan talenta muda David Alonso, Puig mengimbau agar semua pihak tidak memberikan tekanan berlebih pada tahun pertamanya.
"Pertama-tama, dia masih muda," ujar Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia meyakini bahwa proses adaptasi membutuhkan waktu sebelum sang pembalap mampu menunjukkan potensi maksimalnya.
"Jadi, seperti yang pernah kami katakan sebelumnya terkait Moreira, kita tidak bisa berharap terlalu banyak di tahun pertama. Mereka butuh waktu untuk memahami kelas ini," tutur Alberto Puig, Manajer Tim HRC.
Ia memprediksi musim perdana akan berjalan menantang namun optimistis dengan prospek jangka panjang sang pembalap.
"Ini akan menjadi tahun yang menantang baginya [Alonso]. Namun, dia telah membuktikan kecepatannya tahun lalu. Saat ini, tahun ini memang terasa agak sulit, tetapi kami yakin dia bisa mengejar ketertinggalan, dan menurut saya, dia akan menjadi pembalap penting di masa depan." kata Alberto Puig, Manajer Tim HRC.