The Fed St Louis Peringatkan AI Tidak Bisa Redakan Inflasi

Share

Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menegaskan bahwa para pembuat kebijakan tidak dapat menggantungkan harapan pada lonjakan produktivitas akibat kecerdasan buatan (AI) untuk meredakan inflasi yang tinggi, dalam konferensi di Reykjavík, Islandia, Kamis (28/5) waktu setempat.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, kekhawatiran terkait tekanan harga global ini kian beralasan setelah adanya perang dengan Iran. Kondisi tersebut mendorong para pembuat kebijakan memperingatkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) jika inflasi tetap membandel.

Berdasarkan risalah pertemuan tanggal 28-29 April lalu, banyak pejabat The Fed berniat menghapus kalimat yang mengindikasikan kecenderungan pelonggaran arah suku bunga dari pernyataan resmi mereka. Musalem juga mengingatkan bahwa suku bunga acuan riil saat ini masih di bawah level netral.

Indikator inflasi acuan favorit The Fed, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), dilaporkan melonjak 3,8% dalam 12 2026 terakhir hingga April oleh Biro Analisis Ekonomi AS. Hal ini memicu investor bertaruh bahwa peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun telah menembus 50%.

"I rasa sangat berisiko jika kita mengandalkan prospek pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi di masa depan untuk menyelesaikan masalah inflasi yang kita hadapi hari ini," ujar Alberto Musalem, Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis.

Musalem menambahkan bahwa meskipun ia merupakan pengguna aktif AI, antusiasme terhadap teknologi tersebut saat ini justru meningkatkan permintaan listrik serta cip, dan mendongkrak harga saham perusahaan AI yang bisa memicu kenaikan suku bunga.

“Data menunjukkan probabilitas bahwa AS saat ini berada dalam periode pertumbuhan produktivitas tinggi masih jauh di bawah 50 persen,” kata Alberto Musalem, Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis.

Saat sesi tanya jawab, ia menjelaskan bahwa risiko ekonomi saat ini lebih condong ke arah inflasi dibandingkan ketenagakerjaan. Ia mengkhawatirkan kondisi jika tekanan harga terus bertahan dalam beberapa kuartal ke depan.

“Saya pikir ada skenario di mana ekonomi mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga,” kata Alberto Musalem, Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis.

“Jika kita tidak melihat disinflasi dalam satu hingga dua kuartal ke depan, itu akan menjadi perhatian bagi saya. Jika saya melihat ekspektasi inflasi terus naik atau tetap tinggi, itu juga akan menjadi perhatian,” kata Alberto Musalem, Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis.

Musalem kemudian berbicara di Bloomberg Television dan menyatakan dukungannya terhadap pejabat yang ingin menghapus bias pelonggaran kebijakan. Menurutnya, bank sentral harus tetap terbuka terhadap peluang kenaikan suku bunga di masa depan.

“Mandat kami adalah stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum, dan saat ini inflasi masih berada di atas target,” ujar Alberto Musalem, Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis.

“Jadi kemungkinan, atau probabilitas, bahwa kami mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga di masa depan saya rasa harus lebih besar dari nol,” ujar Alberto Musalem, Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis.

Terkait kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS baru-baru ini, Musalem memperkirakan sekitar tiga perempatnya disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi terhadap tingkat suku bunga netral The Fed. Pertemuan kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni mendatang yang menjadi debut bagi gubernur baru, Kevin Warsh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author