Federal Reserve Pertahankan Suku Bunga Acuan pada Kisaran 3,5 Persen
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) secara bulat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate di kisaran 3,5% hingga 3,75% dalam pertemuan yang berlangsung pada Rabu (17/6/2026).
Keputusan tersebut diambil dalam rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Langkah ini diiringi oleh sinyal dukungan yang kian kuat dari para pejabat bank sentral AS untuk melakukan kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Menyusul pengumuman tersebut, obligasi pemerintah Amerika Serikat terpantau melemah, sementara mata uang dolar mengalami penguatan dan pasar saham bergerak turun. Para pelaku pasar kini memperkirakan kepastian kenaikan suku bunga akan terjadi paling lambat pada Oktober mendatang.
"Harga-harga yang tetap tinggi merupakan beban bagi rakyat Amerika, tetapi masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan," kata Warsh dalam konferensi pers perdananya sebagai ketua Fed.
Melalui pernyataan tersebut, Warsh menegaskan komitmen bulat dari komite untuk segera memulihkan stabilitas harga di tengah situasi inflasi yang masih tinggi. Meskipun demikian, ia sedikit meredam proyeksi dari sembilan pejabat yang memperkirakan setidaknya ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada tahun ini.
"Saya tidak mendengar keyakinan yang sangat kuat" ujar Warsh mengenai proyeksi rekan-rekannya yang menunjukkan tingginya ketidakpastian terhadap prospek ekonomi.
Kepala Fed yang baru itu memilih untuk tidak menyampaikan proyeksi suku bunganya sendiri karena selama ini bersikap kritis terhadap praktik panduan kebijakan ke depan atau forward guidance. Ia menambahkan bahwa dinamika dalam rapat kali ini merupakan bentuk perdebatan keluarga yang sehat.
"I tidak melihat alasan untuk meninjau kembali target tersebut sampai kita berhasil menegaskan kembali komitmen dan kemampuan kita dalam mencapai sasaran inflasi 2%," kata Warsh saat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai target inflasi.
Di samping itu, para pembuat kebijakan merevisi proyeksi ekonomi bulan Maret mereka, dengan menaikkan proyeksi median inflasi tahun ini menjadi 3,6% dan inflasi inti 2026 menjadi 3,3%. Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 diturunkan menjadi 2,2%, sementara tingkat pengangguran pada akhir tahun diperkirakan berada di angka 4,3%.
Kebijakan penahanan suku bunga ini turut mendapat perhatian dari otoritas eksekutif Amerika Serikat yang sedang berada di luar negeri.
"Sulit dipercaya. Kebijakan itu hanya menahan laju negara dan sangat tidak biasa," kata Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan respons tersebut kepada awak media di Prancis pada Rabu lalu. Ia menambahkan bahwa keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga pada dasarnya tidak menjadi masalah bagi dirinya.
"Tetapi sekarang ada orang yang sangat baik di sana, jadi saya mengikuti apa yang dia inginkan," kata Trump menutup pernyataannya.
Kondisi ekonomi AS saat ini memang dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan Mei yang melampaui estimasi serta lonjakan inflasi April sebesar 3,8% akibat perluasan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, harga minyak global baru-baru ini merosot tajam menyusul kabar kesepakatan damai awal antara AS dan Iran yang berpotensi meredakan tekanan biaya energi ke depan.